Kamis, 04 Desember 2014

Keramaian Yang Membunuh

Dia mati diinjak-injak. Seolah kaki-kaki jahat itu ingin mengubur tubuh malang itu di bawah beton yang keras. Gadis pembawa acara berita di TV mengatakan kalau itu adalah kasus pembunuhan dan polisi mencurigai bahwa pelakunya adalah satu orang. Huh! Dasar polisi bodoh! Itu memang kasus pembunuhan, tapi pelakunya bukanlah seorang, melainkan mereka, ya mereka yang tiap sore hari berjalan berombongan melintasi jalan sempit di antara gedung-gedung tinggi. Orang-orang awam, termasuk kamu, pasti akan menganggap mereka hanya orang-orang biasa yang sedang dalam perjalanan pulang dari tempat mereka bekerja, dan mereka melewati jalan tersebut karena jalan itu merupakan satu-satunya yang dapat mereka lalui begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah, tapi tidak kawanku! Aku tahu maksud mereka yang sebenarnya, mereka sedang mencari mangsa. Mereka selalu berhasrat untuk menginjak-injak tubuh seseorang, membuat tubuh itu remuk sehingga tidak ada lagi ruang kosong di dalam tubuhnya, memaksa ruh orang yang malang tersebut keluar untuk mengisi udara yang kosong.

Aku tahu pasti kamu ingin bertanya dari mana aku tahu semua itu, atau mungkin kamu berpikir aku sudah gila. Tapi aku yakin kamu akan mengerti jika kamu berdiri di antara orang-orang kejam tersebut. Kamu akan dapat merasakan tatapan dingin mereka yang jahat. Kamu akan dapat merasakan niat jahat mereka untuk meremukanmu memenuhi udara. Kamu akan merasakan intimidasi mereka yang membuatmu berkeringat deras dan membuat perutmu sakit. Aku yakin kamu akan merasakan semua itu, walaupun sayang semua perasaan itu akan jadi ingatanmu yang terakhir karena mereka akan membunuhmu kemudian.

Si gadis pembawa acara berita di TV memberitahuku kalau kejadian ini adalah kasus kedua dalam sebulan terakhir ini. Dan polisi sudah berusaha sekuat tenaga untuk dapat segera menemukan siapa pelakunya. Aku bingung kenapa polisi tidak mencurigai orang-orang jahat tapi pengecut yang selalu jalan beramai-ramai tersebut, apa polisi tidak mempunyai borgol yang cukup untuk menangkap mereka semua? Atau mereka hanya tinggal memiliki satu tempat tersisa pada penjara-penjara mereka? Padahal menurut hasil otopsi, yang juga disampaikan oleh si gadis pembawa acara berita di TV, pada tubuh korban tidak ditemukan sedikit pun petunjuk mencurigakan yang dapat mengarah pada si pelaku, hasil analisa pada tubuh korban hanya menyimpulkan kalau korban tewas karena hantaman benda tumpul pada sekujur tubuhnya. Padahal sebenarnya, ini murni pendapatku lho, petunjuk terbaik sudah polisi dapatkan melalui hasil otopsi tersebut, "hantaman benda tumpul" itu sudah jelas-jelas adalah luka karena diinjak-injak, dan siapa lagi yang patut dicurigai atas kejahatan cerdas ini selain, yap kamu benar, segerombolan orang jahat itu.

Aku pernah terjebak di antara mereka, orang-orang jahat itu. Kejadiannya beberapa bulan yang lalu, saat itu adalah jam pulang kerja dan aku baru saja keluar dari stasiun. Saat itu aku sedang dalam kondisi berduka karena dua minggu sebelumnya ayahku meninggal dalam kasus penjambretan bersenjata api, aku ingat saat itu di kotaku sedang sering terjadi kasus penjambretan yang memakan korban jiwa. Aku sangat sedih karena ayahku menjadi salah satu korbannya, kematian ayahku meninggalkan luka yang sangat dalam bagiku, terlebih cara kematiannya yang disebabkan oleh orang yang tak beradab, membuatku marah sekaligus takut pada orang-orang yang tersesat seperti pembunuh ayahku. Tapi aku sadar kalau aku harus melanjutkan hidup karena waktu terus berjalan, hari itu adalah hari pertama aku kembali masuk kantor selepas kematian ayahku. Aku ingat saat itu aku sedang memikirkan ayahku sebelum kemudian aku sadar kalau aku berada di tengah-tengah kerumunan orang, mereka semua berjalan ke arah yang sama denganku. Tapi aku berani bersumpah, aku dapat merasakan kalau orang-orang tersebut satu persatu melirik ke arahku, dan aku dapat melihat kalau mereka semakin lama berjalan semakin rapat seolah ingin menjepitku di tengah. Sesaat kemudian aku merasa mual, detak jantungku berdegub kencang layaknya suara kereta yang kutumpangi tadi, keringat bercucuran dari keningku dan membasahi kemejaku dan perutku tiba-tiba terasa sakit.

Aku sadar hanya ada dua pilihan yang dapat kulakukan saat itu, yaitu pingsan atau berteriak meminta tolong. Kondisi tubuhku yang saat itu terasa sangat lemas memaksa untuk melakukan opsi pertama, tetapi batinku menolak keras, karena aku yakin jika aku pingsan saat itu dan tubuhku jatuh ke tanah, aku justru akan jadi korban dari orang-orang itu. Maka dengan seluruh tenaga yang tersisa, aku putuskan untuk melakukan opsi kedua. Tetapi sebelum ada sepercik suara sedikit pun yang keluar dari kerongkonganku, aku merasakan ada tangan yang menyentuh pundakku dan diikuti oleh suara lelaki yang menyebut namaku. Aku memutar tubuhku ke kanan dan menemukan rekan kerjaku di kantor berdiri dengan raut wajah khawatir. Melihat wajahnya aku merasa sangat senang dan beruntung karena ada yang menyelamatkanku dari horor ini. Seiring dengan itu aku merasakan kekuatan tubuhku kembali, detak jantungku berangsur normal dan rasa sakit di perutku hilang tak berbekas. Aku berusaha untuk dapat berdiri tegak setelah temanku bertanya apa aku baik-baik saja, karena tadi ia melihat wajahku pucat dengan nafas terengah-engah. Aku katakan kalau aku baik-baik saja sambil berusaha melirik ke keramaian orang-orang di sekitar yang berjalan melewati kami berdua. Kini semua terasa normal, orang-orang tersebut hanya berjalan tanpa melirik sedetik pun ke arahku. Tapi aku tahu kalau ini hanyalah akting dari kelicikan mereka. Dasar pengecut! Mereka hanya berani menyerang orang yang sedang sendirian. Lalu aku pun berterima kasih pada rekan kerjaku tadi, sambil berkata tidak perlu mengkhawatirkanku. Temanku menyarankan agar aku mengecek kondisiku ke dokter, tapi aku katakan tidak perlu. Orang-orang biadab itu yang perlu berkonsultasi ke dokter jiwa, pikirku saat itu.

Semenjak hari itu, aku harus mengubah pilihan transportasi ku untuk menuju ke kantor, aku harus rela bangun satu jam lebih awal agar tidak telat karena sekarang aku harus menaiki bis. Semenjak kejadian itu pula, aku menaruh curiga pada kawanan pembunuh tersebut, aku yakin aku tahu niat mereka yang sebenarnya, karena aku dapat merasakannya saat aku di sana. Aku juga yakin kalau suatu saat pasti ada orang bernasib malang yang akan menjadi korban mereka. Dan seperti yang sudah kamu tahu, akhirnya hal itupun terjadi, kegilaan ini pada akhirnya dimulai. Bulan ini sudah dua nyawa yang melayang, ini harus segera dihentikan.

Sebenarnya aku merasa sedikit bertanggung jawab atas kasus ini, seharusnya aku segera melaporkan pada polisi sejak saat aku menjadi korban intimidasi mereka, namun setelah apa yang terjadi ketika aku menceritakan hal ini pada teman-temanku, aku mengurungkan niat untuk membawa hal ini pada polisi atau publik, aku takut hanya akan jadi bahan tertawaan mereka, dan mereka akan serempak mengacungkan telunjuknya padaku seraya mengatakan aku sudah gila. Ketika kasus pertama terjadi dan muncul di TV, aku merasa di atas angin, aku merasa berduka sekaligus senang atas jatuhnya korban pertama tersebut. Aku pun menulis surat kepada polisi yang berisikan hipotesaku atas kasus ini, namun suratku itu tak terbalas dan seolah tak diacuhkan. Polisi tetap mengumumkan pendirian mereka bahwa pelaku pembunuhan ini hanya seorang. Begitu pula dengan teman-temanku, mereka lebih percaya pada polisi dibanding teman mereka sendiri yang sudah pernah merasakan teror para pembunuh tersebut secara langsung. Akhirnya aku pun menyerah, hingga saat ini kejadian yang sama pun terulang, sudah ada dua korban. Sekarang aku menertawakan mereka, semoga mereka cepat tersadar dari kebodohan mereka sendiri dan mulai melihat hal-hal yang sudah jelas di depan mata. Mungkin mereka baru akan tersadar setelah ada korban ketiga nanti? Hmph, semoga saja!

Dua minggu kemudian, hari ini hari Jumat, aku sengaja mengambil cuti dari kantorku karena ibuku akan datang mengunjungiku hari ini dan akan menghabiskan akhir pekan bersamaku. Dari pagi ini aku sibuk membersihkan apartemen dan menyiapkan beberapa hal untuk kedatangan ibuku, dan sore nanti aku harus menjemputnya di stasiun kereta. Yap, aku sadar kalau ini artinya aku harus melewati jalan "itu". Apa aku takut? Tentu saja! Tapi aku yakin bisa menahan rasa takut itu dengan tetap siaga dan fokus, aku harus selalu tahu tepat di mana langkahku berada, dan jika aku melihat keramaian orang, aku harus senantiasa menghindarinya. Lagipula aku akan segera bertemu ibuku, perlu ku beritahu, ibuku sangat jago menenangkan anak-anaknya, terutama aku. Misalnya saja, saat ayahku meninggal, seandainya tak ada ibuku, mungkin aku akan merasa sedih sepanjang sisa hidupku, aku akan berhenti bekerja dan kehilangan hidupku, namun setelah melihat ibuku berada di sana, melihatnya berusaha agar terlihat lebih tegar dari yang lain, membuatku sadar bahwa aku belum kehilangan segalanya. Selain itu, sosok ibuku selalu memancarkan rasa aman bagiku, karenanya begitu sore nanti aku bertemu dengannya, mimpi buruk ini akan sementara terlupakan dari pikiranku.

Mataku terbuka lebar karena merasa seolah baru saja ditampar oleh jam tanganku sendiri, saat itu sudah jam setengah 5 lewat. Sial, aku harus jemput ibuku di stasiun jam 5, kenapa aku sempat-sempatnya ketiduran!? Tanpa basa-basi apapun lagi aku segera meraih jaketku dan beranjak turun dari apartemenku, kebetulan sebuah taksi melintas lewat begitu aku keluar dari pintu depan. Semenit kemudian aku sudah berada dalam taksi tersebut menuju ke tempat yang mengerikan.

Taksi ku berhenti sekitar 20 meter dari sebuah gang yang mungkin lebarnya hanya sekitar 5 meter, posisi gang tersebut diapit oleh dua bangunan apartemen tinggi, melalui gang tersebutlah orang-orang yang akan ke stasiun atau dari stasiun lewat. Panjang gang itu sampai ke pintu depan stasiun kira-kira 50 meter, kedua sisi gang tersebut adalah tembok apartemen yang gelap, di antara tembok-tembok itu terselip beberapa lorong kecil tempat di mana pintu belakang apartemen dan tempat sampah apartemen berada. Saat ini sudah jam 05.10, kondisi gang penuh sesak dengan kerumunan orang yang baru keluar dari stasiun, pada saat seperti ini orang-orang yang ingin masuk ke stasiun akan kesulitan karena harus berdesak-desakan dengan kerumunan yang hendak keluar.

Aku baru saja turun dari taksi, mengamati gang itu dari kejauhan. Aku merasa deg-degan dan berkali-kali aku menelan ludah ketika melihat keramaian itu. Aku merasa muak karena aku tahu di antara orang-orang itu membaur kawanan pembunuh yang sedang mencari korban yang lengah. Pikiranku berusaha menerawang apa hari ini akan ada korban baru yang jatuh? Dua minggu terakhir ini terasa sunyi karena mereka tidak membuat berita apa-apa. Apa mereka sengaja agar tidak menarik perhatian? Kalau iya mungkin saja hari ini adalah waktu untuk mereka beraksi kembali.

Pikiranku terus menerawang liar dan justru semakin membuatku takut sebelum wajah ibuku tiba-tiba muncul begitu saja dalam pikiranku, seketika itu pula aku sadar apa tujuan utamaku datang ke tempat yang mengerikan tersebut. Aku mengeluarkan sebatang handphone mahal dari kantong celanaku. Handphone tersebut merupakan hadiah dari teman-teman dekatku, mereka berharap handphone itu dapat membantuku untuk melewati masa-masa stres yang kualami. Kugenggam handphone itu sejajar dengan dadaku sambil jemari tangan kiriku memilah layar mencari kontak ibuku untuk ku telepon. Namun sebelum sempat kutemukan yang kucari, sekumpulan jari-jari kecil meraih handphone tersebut dari genggamanku. Sadar kalau aku baru saja terjambret, mataku langsung reflek mencari siapa pelakunya. Beberapa meter dari tempatku berdiri dapat kulihat sesosok anak kecil, atau remaja, yang sedang berlari kencang. Kali ini tubuhku yang reflek bergerak mengejar sosok tersebut. Sialnya, si pencuri kecil itu berlari sangat kencang, dan sangat gesit meliuk-liuk di antara kerumunan orang yang berjalan. Lalu seperti yang sudah bisa ditebak, aku pun kehilangan dia. Sekeliling kumemandang, yang terlihat hanya orang-orang biasa yang berlalu-lalang, selain itu entah kenapa tempat itu agak gelap sehingga makin menyulitkan untuk membedakan si pencuri kecil.

Nafasku terengah-engah, adrenalin masih mengalir deras di tubuhku akibat kejadian barusan. Aku sedikit membungkuk sambil mengatur nafas, kedua tanganku memegang kedua lututku, jantungku masih berdegub kencang. Sayup-sayup di antara orang-orang yang berlalu-lalang aku berusaha mencari tahu aku ada di mana. Butuh beberapa detik sebelum aku sadar sedang berada di mana namun hanya butuh kurang dari sedetik untuk tubuhku bereaksi; lututku langsung terasa lemas saat aku sadar sedang terjebak di antara keramaian di dalam gang.

Aku panik, sangat panik, juga ketakutan. Nafas dan degub jantungku menjadi sangat cepat, seolah sedang berlomba. Keningku langsung menelurkan biji-biji keringat sehingga terlihat seperti daun berembun di pagi hari. Ku beranikan untuk melirik ke sekelilingku, yang kulihat hanya tubuh-tubuh manusia yang lewat berlalu-lalang di antara keremangan. Aku sedikit merasa lega, karena merasa rombongan pembunuh itu tidak ada di sekitarku, walaupun aku masih tetap merasa panik setengah mati. Aku merasa harus melakukan sesuatu, sebelum mereka dapat menyadari keberadaanku, aku tidak mau jadi calon korban mereka lagi!

Dengan susah payah aku berhasil berdiri tegak, namun sesuatu membuatku reflek menutup mata. Aku merasakannya. Perasaan ini, seperti saat itu. Aku merasakan kehadiran mereka. Aku merasa sangat takut, keringat sudah membasahi seluruh wajahku dan mengalir turun di balik kaosku. Aku merasa ingin berteriak tapi entah kenapa hal itu terasa berat, rahangku seolah tak mau diatur karena sibuk menggigil ketakutan. Namun aku masih punya insting bertahan hidup yang mengatakan kalau aku harus membuka mataku dan mencari jalan keluar dari tekanan ini. Sebuah pilihan yang kurasa sangat sulit mampu kulakukan, karena semua ototku tegang, membuat tubuhku sulit untuk digerakan, seolah dia sedang mengkhianatiku.

Sadar karena tidak ada pilihan lain, aku putuskan untuk melakukannya. Dengan setengah mati, aku berusaha mengangkat kelopak mataku yang terasa sangat berat. Mataku baru terbuka sekitar 3 mm, dan penglihatanku masih berair ketika aku melihat pemandangan yang lebih menyeramkan; mereka, kawanan pembunuh itu, mereka semua serempak menatapku dengan tatapan dingin mereka, bahkan beberapa tatapan mereka terasa sangat dekat, mungkin hanya berjarak beberapa cm dari wajahku.


Ketika ini terjadi, satu deguban jantungku terasa sangat keras, seperti ada sebuah gong yang baru saja di pukul di dalam dadaku. Dan seketika itu juga perutku terasa sangat sakit. Lalu akupun mulai menangis, air mata merembes keluar dari kelopak mataku yang tertutup ibarat bendungan yang bocor. Aku merasa sangat-sangat takut. Aku takut mati! Aku tak mau mati di kaki mereka! Pikiranku jadi kacau, menerawang liar. Apa kali ini tidak ada yang dapat menyelamatkanku? Rekan kerjaku! Di mana dia!? Sekarang jam pulang kerja jadi mungkin saja dia ada di antara kerumunan---tunggu! Ibu! Aku baru ingat! Ibu ku ada di sini! Tolong aku, ibu! Anakmu dalam bahaya, segeralah kemari dan tolong dia! Oh, ibu, aku sangat takut! Ku harap kau ada di dekat sini dan melihatku! Badai dalam batinku masih bergelora dan baru sedikit tenang ketika aku merasa ada yang menggenggam pergelangan tangan kananku, lalu berusaha menuntunku untuk pergi dari situ. Apakah itu ibu? Itu ibu! Aku yakin itu dia! Dia datang untuk menyelamatkanku!

Awalnya tanganku masih tegang dan kaku ketika tangan itu berusaha menarikku. Namun setelah merasa yakin kalau itu adalah ibu aku langsung sekejap merasa tenang dan aman. Tubuhku terasa lemas sekaligus kuat ketika ibu menuntunku pergi dari situ. Aku masih memejamkan mata, tak berani membukanya, menghindari tatapan menyeramkan tadi, karena aku yakin kalau orang-orang jahat itu masih di situ. Yah, walaupun sekarang mereka tak dapat menyakitiku karena ada ibu di sini.

Setelah berjalan beberapa langkah, aku mulai berani membuka mata. Penglihatanku masih tidak jelas karena mataku habis bermandikan air mata. Namun samar-samar aku dapat melihat kalau di sekitarku gelap, dan ada tembok di kedua sisiku. Aku langsung mengetahui kalau kini aku dibawa ibuku melalui lorong-lorong kecil di belakang apartemen. Aku tahu keberadaan lorong-lorong ini, tapi ini pertama kali aku melewatinya, ternyata cukup panjang juga, dari banyaknya langkah yang sudah kupijak mungkin saat ini aku sudah melewati lorong tersebut sejauh 20 meter. Gelap dan sangat sepi di sini, tapi tidak masalah, mungkin insting ibu bilang kalau tempat ini aman.

Tubuhku didudukkan sambil bersender pada sebuah kotak besi besar, yang dari baunya aku tahu kalau itu adalah tempat sampah. Penglihatanku masih samar-samar, tapi di hadapanku aku dapat melihat sesosok wanita yang wajahnya berada tepat sejajar dengan wajahku. Samar-samar terlihat wanita itu menatapku dengan iba, lalu bibirnya yang merah dan kecil mulai membuka dan mengatakan sesuatu. "Cep-cep-cep, sudah jangan menangis anakku, ibu ada di sini!". Mendengar hal itu aku merasa sangat senang, itu ibuku! Dia yang menyelamatkanku!

Aku berusaha mengangkat sebelah tanganku untuk menyeka air mata yang ada di mataku, namun sebelum tanganku berhasil meraih rongga mataku, aku merasakan ibu jari ibuku menyentuh kedua pipiku. Ibu jari kurus yang terbungkus sarung tangan itu mulai membersihkan air mata yang menganggu penglihatanku. "Anakku sayang, apa yang bikin kamu nangis tadi? Duh, kasian!". Setelah mengedipkan mataku beberapa kali, penglihatanku berangsur jernih, sosok di depan mataku makin terlihat jelas. Aku merasa sangat senang dapat segera melihat ibuku, terlebih lagi dia yang tadi sudah menyelamatkanku. Aku sudah berhasrat untuk segera memeluknya begitu aku sudah dapat melihat dengan jelas wajahnya yang damai.

Penglihatanku sudah pulih, sosok di depanku dapat kulihat dengan jelas. Namun bukan rasa senang yang ku dapat, malahan rasa bingung. Karena sosok tersebut bukanlah ibuku. Yang menyelamatkanku tadi adalah seorang wanita yang terlihat belum terlalu tua, mungkin baru berumur awal 30-an, sangat berbeda dari ibuku yang sudah tua. Di wajah wanita tersebut tertulis lengkap rias wajah yang indah, membuatnya terlihat sangat cantik. Namun rias wajah di bawah matanya terlihat sedikit rusak, sepertinya ia baru saja menangis. Aku menatapnya dengan raut wajah heran dan kebingungan, sementara dia balas menatapku sambil tersenyum, yang sekilas senyumnya terasa menyeramkan. Saat ini aku merasa tenang dan lega karena sudah merasa aman, yah siapapun wanita ini, aku harus berterima kasih padanya karena telah menyelamatkanku.

"Maaf, anda siapa? Saya kira anda ibuku." tanyaku dengan suara serak pada wanita itu. Wanita itu tetap bergeming dengan senyum mengerikannya. "Yah, saya cuma mau bilang, terima kasih banyak karena nyonya udah menyelamatkan saya." lanjutku. Wanitu itu tetap tersenyum diam sebelum akhirnya berdiri sambil pandangannya mengarah ke bawah, menatapku. Aku pun harus mendongakkan kepalaku agar tetap bisa melihat wajahnya. Kemudian wanita itu menyimpan senyumnya dan beberapa kali terlihat akan mengatakan sesuatu, namun dia terlihat kesulitan dan nafasnya terengah-engah. Tubuhnya sedikit bergoyang dan terlihat seperti sempoyongan, melihat hal itu aku mulai merasa ada yang ganjil. Lalu tiba-tiba terdengar kikikan kecil, yang berasal dari wanita itu, kemudian bibirnya yang kecil menyeramkan terbuka dan mengatakan kalimat terseram yang seseorang pernah katakan padaku.

"kheheheh...aku bukan ibumu...kau bukan anakku..anakku..dia...DIA SUDAH MATI!!!" wanita itu berteriak padaku, belum sempat aku dikagetkan oleh teriakannya, aku dikagetkan oleh suatu hantaman keras yang mengenai kepalaku. Tubuhku pun terjerembab ke samping. Kepalaku terasa sangat sakit, pusing hebat melanda isi kepalaku, penglihatanku terasa berputar-putar dan aku merasa mual, dan yang utama, bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Aku mengerang kesakitan, dan belum sempat menggerakan seinci ototpun sebelum sebuah hantaman keras berikutnya mengenai bagian belakang kepalaku. Penglihatanku hilang begitu hantaman itu mengenaiku, semua terasa gelap, indra perasaku menguat beberapa kali lipat, sehingga rasa sakit di kepalaku menjadi tak tertahankan. Sepertinya wanita itu sudah menyiapkan sebuah senjata tumpul di sebelah tangannya yang disembunyikan di balik tubuhnya, sebuah tongkat baseball mungkin? Aku tak tau, saat ini aku merasa pasrah. Aku juga merasa marah asal kamu tahu, tapi aku rasa ini percuma, karena saat ini aku sudah tak berdaya. Wanita itu kini sedang berteriak-teriak ke arahku sambil menangis, mungkin menjelaskan maksud dari semua ini. Hmm, coba dengar---katanya suaminya meninggalkannya, lalu bayinya, satu-satunya harta berharga yang dia miliki, tewas diinjak-injak oleh penjambret yang menyerangnya suatu hari, dan sekarang dia sedang berteriak memaki semua pria, dan aku, ternyata aku adalah bayaran atas apa yang genderku sudah lakukan padanya. Setelah puas berteriak wanita itu kembali menyerangku, aku dapat merasakan tubuhku seperti sedang diinjak-injak olehnya. Tapi anehnya, aku tak dapat merasakan rasa sakit, apa karena daya hidupku yang sudah tipis jadi tidak dapat merasakan rasa sakit lagi? Atau rasa sakitku berpindah ke wanita yang justru sedang berusaha menghapus rasa sakitnya dengan membunuh orang-orang tak bersalah? Yah, apapun itu aku tak peduli, karena sekarang semua itu tak berarti, aku akan segera mati. Ibu, maafkan aku rencana akhir pekan kita gagal total, bahkan mungkin kau akan melaluinya dengan air mata. Maafkan aku ibu karena tidak dapat melihat wajahmu untuk terakhir kali, padahal aku yakin seandainya aku dapat melihatnya hari ini, semua ini pasti tak akan terjadi.

Seandainya aku bisa menonton TV esok hari, melihat gadis pembawa acara berita juga polisi berbicara tentang kematianku. Saat itu aku akan setuju dengan mereka karena akhirnya aku tau siapa pelaku sebenarnya. Tapi bukan berarti aku melepas curiga pada sekelompok pembunuh itu, aku yakin suatu saat mereka akan melakukan aksinya, catat kata-kataku dan kamu tunggu saja! Yah, tapi untuk saat ini, karena akan segera mati, aku tak perlu khawatir soal mereka, hanya saja aku khawatir setelah mati nanti aku akan dibawa ke mana, semoga saja bukan tempat yang ramai, karena tampaknya aku takut akan keramaian.

(Artwork by Xagamus @ deviantart.com)

Tidak ada komentar: