Minggu, 26 Februari 2012

Kisah Cinta Si Laki-laki Pemalu Bag. 3 - Selesai


Satu minggu kemudian, hari H. Hari ini adalah hari ulang tahun yang ke 17 sekolah gue, dan sudah jadi tradisi tiap tahun untuk mengadakan acara perayaan. Saat ini sebuah panggung yang cukup besar berdiri megah di areal lapangan sepak bola sekolah gue, yang terletak di tengah dikelilingi oleh gedung-gedung kelas dan kantor guru. Saat ini di atas panggung sedang berlangsung pertunjukan drama persembahan anak-anak ekskul teater. Di belakang panggung, yang menjadi dekorasi adalah sebuah kalimat yang dibuat dari karangan bunga yang tertulis; “Happy Sweet Seventeen My Lovely School!”, ditambah dengan beberapa pernak-pernik dan lambang sekolah di bawahnya. Jauh di seberang panggung berdiri tenda dengan jejeran kursi di bawahnya, tempat guru-guru dan para undangan duduk menikmati acara. Sementara di depannya diberikan spot kosong yang digunakan oleh para murid untuk menonton acara yang berlangsung di atas panggung. Di sisi lain dari lapangan terdapat belasan stand bazaar yang menjual berbagai macam makanan, pernak-pernik, hingga pakaian yang semuanya hasil karya murid sekolah gue.

Saat ini gue sedang berkumpul sama temen-temen sekelas gue di pinggir lapangan, kerjaan kami hanya bercanda dan bolak-balik ke bazaar untuk mencicipi berbagai macam makanan, atau hanya untuk menggoda cewek-cewek yang sedang jualan. Gue belum ketemu sama Thara hari ini, karena dia sibuk sebagai anggota panitia acara hari ini, gue juga gak mau ganggu dia selama bertugas, tapi dia udah berjanji kalo pas break Maghrib-Isya nanti dia akan menemui gue. Juga karena setelah itu panggung akan dikuasai oleh penampilan anak-anak dari ekskul musik.

Hari semakin gelap, karena ulah Matahari yang menenggelamkan dirinya. Pukul 18.00, acara pun memasuki break selama 1 jam, segala aktivitas di atas panggung dan bazaar dihentikan sementara. Beberapa saat kemudian Adzan Maghrib berkumandang dari masjid di belakang areal sekolah, lalu orang berbondong-bondong pergi sana termasuk gue dan temen-temen gue yang nongkrong tadi. Seusai menjalankan ibadah, ketika di perjalanan kembali ke sekolah Thara sms gue; “Hey! Lagi dimana? Temuin gue di kantin dong J”. Setelah membalas sms-nya, gue memisahkan diri dari temen-temen gue lalu menuju ke kantin sekolah, rupanya Thara dan panitia acara lainnya sedang beristirahat di sana. 

Thara melihat gue datang lalu mengajak gue duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan di areal kantin. “Duh, capeknya gue!” keluh Thara, sambil mengibaskan sekumpulan kertas ke wajahnya. “Cheer up, you’re doing great! Sejauh ini acara berjalan lancar dan gak ada masalah kan?” kata gue berusaha menyemangatinya. “Iya sih, untungnya sejauh ini gak ada masalah. Tapi gue sih lebih khawatir karena nanti masih ada pertunjukan yang harus gue tampil.” Thara berkata sambil ngelirik gue. “Haha, lo pasti bisa kok, tenang aja!” kata gue mencoba menenangkannya. “Eh, lo udah siapin kostum yang gue minta kan?” tanya Thara. “Iya udah. Nah, lo sendiri pake kostum apa nanti?”, “Hmph, ra-ha-sia, liat aja nanti!” Thara berkata sambil memberikan senyum iseng ke gue. “Iya deeeh.” balas gue menahan rasa penasaran.

“Nanti kita tampil urutan ke 8 ya! Terus lo langsung tampil lagi sama band lo abis itu.” kata Thara sambil memperhatikan secarik kertas yang merupakan rundown acara, lalu memperlihatkannya ke gue. Gue lihat memang nama ‘TiTha’, yang merupakan kependekan dari nama gue sama Thara-dia yang milih nama ini, bukan gue-ada di urutan tampil nomor 8, lalu di nomor 9 ada ‘Monkey Meets Banana’, nama band gue sama Wawan, dkk. “Saat kita tampil itu kira-kira jam setengah 9, jadi kurang lebih masih 2 jam lagi. Jadi masih sempet buat nyobain jajanan di bazaar, daritadi gue belum sempet ke sana. Nanti temenin yah?” pinta Thara sambil menatap gue manja, yang tentu saja gue turutin permintaannya.

Setelah puas wisata kuliner ala anak-anak SMA gue, gue sama Thara mencari tempat di depan panggung, waktu sudah jam setengah 8, sebentar lagi band pertama akan tampil untuk unjuk kebolehan. Saat ini mereka sedang bersiap-siap di atas panggung dan MC acara sedang menjalankan tugasnya yaitu mengalihkan perhatian penonton ketika peserta band masih bersiap-siap. Lalu band yang kesemua personilnya adalah murid kelas 1 memulai penampilan mereka, mereka membawakan lagu dari band Zigas yang berjudul “Sahabat Jadi Cinta”. Beberapa saat kemudian, band pertama sudah menyelesaikan penampilan mereka, dan langsung disusul oleh band kedua yang naik ke atas panggung.

Disela-sela hiruk-pikuk keramaian penonton Thara memberitahu gue kalau setelah band kedua ini tampil, dia mau pamit untuk mulai bersiap-siap dandan untuk tampil nanti. Yang pertama gue masih heran kenapa harus buru-buru karena masih ada 5 band lagi yang akan tampil-yang berarti masih ada sekitar 1 jam lagi-tapi terus gue sadar cewek emang butuh waktu yang-sangat-lama untuk merias diri. Jadi gue maklum. Sementara gue rasa gue hanya perlu ganti baju, cuci muka dan merapikan rambut, yang berarti gue baru akan bersiap-siap ketika band ke 7 sedang tampil.

Puluhan menit dan beberapa lagu kemudian, band ke 6 baru saja menyelesaikan penampilannya. Gue langsung beranjak dari tempat gue berdiri, menuju ke kelas untuk bersiap-siap. Setelah merasa udah cukup ganteng gue pun kembali ke lapangan, menuju ke belakang panggung tempat janjian gue sama Thara untuk ketemu. Ketika gue sampai di sana ternyata Thara belum tiba, barulah sekitar 2 menit kemudian sesosok cantik tampak di kedua bola mata gue, akhirnya gue tau alesan kenapa dia nyuruh gue pake kemeja berwarna merah, Thara tiba dengan mengenakan gaun berwarna merah terang dan memakai bando dengan warna yang sama. Di wajahnya terlukis make up dengan kadar yang sempurna, sehingga membuat wajahnya yang sudah cantik tanpa memakai make up pun, menjadi lebih cantik lagi. Dia tersenyum ketika sampai di depan gue, lipstick merah yang dioles tipis di bibirnya membuat senyumnya menjadi terlihat anggun. Kemudian Thara menggenggam tangan gue, sangat pas karena saat itu band ke 7 baru saja selesai dan nama kita berdua pun dipanggil ke atas panggung. “Are you ready?” tanya Thara. “Yes, let’s spread the love tonight!”. Lalu kami pun naik ke atas panggung.

Di atas panggung rasanya menjadi agak aneh ketika mendapati ratusan pasang mata menatap gue berdua dengan seorang cewek. Rasa malu yang udah gue kurung di dalam diri gue seolah ingin mendobrak keluar, karena diantara tepuk tangan yang mengalun terdapat juga teriakan heboh karena melihat kami berdua, yang gue yakin berasal dari orang-orang yang kenal kami. Thara kemudian menatap gue, gue bisa lihat dimatanya juga terpancar rasa malu, pipinya sedikit memerah. Gue tersenyum kepadanya seolah mengatakan “We can do it!”, lalu gue ambil Gitar dan gue sama Thara pun maju ke depan panggung. Setelah menyapa para hadirin, alunan musik terdengar dari Gitar yang gue mainin, pertunjukan pun dimulai!

“Do you hear me?”
“Talking to you”
“Across the water”
“Across the deep blue ocean”
“Under the open sky”
“Oh my, baby I’m trying”

“Boy, I her you in my dreams”
“I feel you whisper across the sea”
“I keep you with me in my heart”
“You make it easier when life gets hard”

“Lucky I’m in love with my best friend”
“Lucky to have been where I have been”
“Lucky to be coming home again”
“Oooh…”

Gue udah gak peduli sama rasa malu, saat ini gue konsentrasi penuh ke lagu, gue mengganggap saat ini hanya ada gue sama Thara, dan gue sedang menyatakan perasaan gue lewat lirik yang gue nyanyiin dengan sepenuh hati. Dan Thara pun tampaknya juga melakukan hal yang sama, dia tampil maksimal, suaranya terdengar sangat indah. Anehnya, penonton pun hanya terdiam, mungkin mereka terhipnotis dengan penampilan kami, mereka ikut terhanyut dalam alunan musik.

Beberapa saat kemudian, penampilan kami pun selesai. Penonton pun melemparkan tepuk tangan, mereka melakukan standing applause, yang sebenarnya karena mereka semua memang berdiri dan tidak disediakan tempat duduk di depan panggung. Diantara riuh ricuh penonton tiba-tiba terdengar kericuhan lain di samping panggung, dimana terdengar teriakan, “TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK!”, “Ayoo To, tembak dia!”. Mereka adalah temen-temen sekelas gue. Lalu karena teriakan mereka yang memang sangat keras, jadinya makin banyak lagi yang meneriakan hal yang sama, kayaknya hampir semua penonton yang ada di depan panggung juga ikut meneriakannya. “AYO TEMBAK!”, “HAJAR!”, “TEMBAK BOS!” adalah beberapa macam teriakan yang terdengar dari arah penonton.

Gue melirik ke arah Thara, tampaknya dia kaget dengan situasi ini, dia cuma membalas menatap gue dengan tatapan bingung. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, gue sambar tangan kanan Thara, dan gue berlutut di depan dia. Yah, emang gue akuin, keadaan sekarang udah kayak di sinetron-sinetron, tapi gue udah gak peduli, udah gue buang semua rasa ragu dan rasa malu, selain karena gue rasa saat ini gue udah gak bisa mundur lagi, gue harus mengatakannya sekarang juga!

Lalu gue mengeluarkan sebatang bunga Mawar Merah yang dari tadi gue sembunyiin di kantung celana gue, dan gue berikan pada Thara. Thara yang tadi kaget karena tingkah gue yang tiba-tiba berlutut di depan dia, menjadi tambah kaget. Sementara penonton makin riuh dan heboh karena melihat pertunjukan ekstra dari penampilan kami. “Jadi…lo udah ngerencanain ini sama temen-temen lo?”. Gue cuma membalas dengan tersenyum, lalu Thara pun mengambil bunga dari genggaman tangan gue, dan membalas juga senyum gue. Penonton menjadi semakin heboh, berbagai macam teriakan dan siulan terdengar dari arah mereka. Lalu gue berdiri dan mengambil mic yang tadi gue gunakan untuk nyanyi, keramaian dari penonton pun sedikit demi sedikit menghilang, mereka seolah memberikan gue kesempatan untuk bicara. Gue berdiri di depan Thara, menatap matanya, sementara tangan kiri gue masih menggenggam tangan kanannya. Gue mengambil nafas, lalu berkata dalam hati kalau inilah saatnya.

“Thara, waktu itu lo pernah nanya ke gue kenapa gue milih lagu tadi buat kita bawain malam ini,” kata gue memulai pidato cinta gue. “Itu karena, gue merasa lagu itu cocok sama perasaan gue selama ini. Gue merasa beruntung karena punya sesosok cewek yang sempurna, yang menjadi sahabat baik gue selama ini. Hari-hari gue menjadi indah karena kehadiran lo.”. Gue masih menatap mata Thara dalam, genggaman kia berdua menjadi semakin erat. Gue berhenti sebentar untuk mengambil nafas, lalu kembali melanjutkan pidato cinta gue, “Dan gue harap, hari-hari seperti ini akan terus berlanjut dan akan menjadi lebih indah, dengan lo menjadi kekasih gue. Lo mau gak?”. Penonton masih terdiam, hanya terdengar beberapa siulan dan beberapa orang yang berteriak “TERIMA! TERIMA!”. Lalu gak butuh waktu lama buat Thara untuk menjawab proposal gue, dia menarik tangan gue yang memegang mic dan mengarahkan ke depan mulutnya. “Iya, gue mau!”. Setelah mendengar jawaban dia gue ngerasa suatu perasaan yang belum pernah gue rasain sebelumnya, sebuah perasaan ketika rasa cinta kita diakuin oleh orang yang kita sayang. Gue merasa sangat bahagia. Lalu tanpa diduga-duga Thara meluk gue, langsung gue balas pelukannya. Dan inilah kami, berpelukan erat di atas panggung dengan diiringi alunan tepuk tangan dan semua kehebohan dari penonton.

Di belakang panggung, ternyata temen-temen band gue udah berkumpul di sana, gue baru inget kalau gue harus tampil lagi setelah melihat mereka. “Weisss, selamat ya, bro! That was quite a show!” kata Wawan ke gue, lalu disusul ucapan selamat dari temen-temen gue lainnya. Lalu kami berlima pun naik ke atas panggung memenuhi panggilan MC. Thara menyemangati gue dan berkata kalau dia akan menonton dari depan panggung.

Penampilan kami dibuka dengan membawakan lagu “Diam Tanpa Kata” dari band D’Masiv. Penonton pun berjingkrak-jingkrak mengikuti beat lagu. Lalu sebelum lagu kedua dimulai Wawan berkata ke penonton, “Tadi kita baru saja menyaksikan keajaiban dari cinta, dua orang anak muda yang saling mencintai dipersatukan di bawah alunan musik, di atas panggung ini.” penonton pun kembali bersorak, lalu Wawan melanjutkan kata-katanya, “Maka dari itu, lagu berikutnya yang akan kami bawakan, kami persembahkan untuk mereka semua yang percaya bahwa cinta itu indah. Khususnya untuk kedua sahabat kami yang baru saja bersatu malam ini!”. Gue tersenyum mendengar kata-kata Wawan, lalu gue menatap Thara yang berdiri di antara kerumunan penonton, dia pun sedang tersenyum melihat gue. Lalu lagu kedua, “Kau Dan Aku” dari Nidji pun kami bawakan.

Penampilan kami pun kembali mampu menghipnotis penonton, sebagian dari mereka ikut menyanyikan liriknya. Dan hebatnya lagi, ketika reff pertama, penonton di depan panggung mundur untuk membentuk sebuah lingkaran yang cukup luas, yang kemudian diisi oleh beberapa pasangan yang berdansa di sana, entah mereka memang beneran pasangan atau hanya teman yang ingin sekedar berdansa. Lalu di jeda sebelum masuk ke reff kedua Wawan menghampiri gue dan berkata ke gue, “To, mending Gitarnya kasih ke gue, lo turun aja gih, ikut goyang sama cewek lo!”. Gue menoleh dan tersenyum ke Wawan, lalu gue berikan Gitar gue ke dia. Gue langsung turun dari panggung dan menuju ke depan panggung, di sana Thara udah menunggu gue dengan senyuman dan menjulurkan tangannya. Gue langsung menyambar tangannya, lalu kami berdua pun ikut bergoyang di antara pasangan-pasangan lain di tengah kerumunan penonton, sambil diiringi lagu yang mengalun dari atas panggung. Gue sama Thara berdansa di dalam indahnya bahagia rasa cinta, kami berharap kata-kata yang sedang kami dengar saat ini akan meresap ke dalam hati kami, lalu menjadi janji tak tertulis yang akan menjaga hubungan kita agar abadi untuk selamanya.

“Kau dan aku selalu untuk selamanya…”

Minggu, 19 Februari 2012

Kisah Cinta Si Laki-laki Pemalu Bag. 2

Keesokan harinya. Gue ngerasa sama sekali gak semangat untuk masuk sekolah, semalem tidur gue juga gak nyenyak. Semua ini karena kejadian tak terduga beruntun yang terjadi kemarin, satu kejadian tak terduga yang bagus karena gue bisa kenal cewek pujaan gue selama ini, lalu satu lagi kejadian tak terduga buruk dimana gue salah ngomong sehingga berujung ‘ngasih’ cewek yang gue taksir ke temen gue. Cewek tersebut bernama Thara. Thara sangat cantik dan memiliki suara yang indah. Gue yakin temen gue Cozy, si maniak cewek bersuara indah, pasti tertarik dan bakal mudah bagi dia untuk deketin Thara. Sementara gue ngerasa kalo gue gak punya tandingan untuk rebutan cewek sama Cozy.

Waktu menunjukan pukul setengah 7 kurang, gue sedang menghabiskan sarapan gue. Gue makan dengan tatapan kosong, karena pikiran gue sedang berkecamuk memikirkan yang akan terjadi sepulang sekolah nanti. Gue masih berpikir sambil menghabiskan sisa beberapa sendok Nasi Uduk sarapan gue. Menurut gue, Cozy pasti tertarik sama Thara, sementara Thara juga kemungkinan besar akan tertarik sama Cozy, dia lebih ganteng dari gue. Kayaknya gue gak bisa mengharapkan mereka berdua. Apa gue coba aja sekali lagi jelasin ke si Cozy ya?

Setelah selesai makan, gue ambil handphone lalu bersiap-siap mengetik sms ke Cozy. Sebenernya gue masih ragu, tapi gue juga udah bener-bener cinta sama Thara, perasaan yang udah tumbuh selama sebulan lebih, karena itu gue gak pengen semudah itu merelakan Thara sama orang lain, meskipun sama sobat gue sendiri. Beberapa saat kemudian gue berhasil ngetik sms untuk dikirim ke Cozy, tapi sebelum sempat gue kirim sebuah sms masuk ke handphone gue, ternyata dari Cozy. “Hoi, To! Semalem gue sampe susah tidur lho mikirin hari ini, gue emang selalu deg-degan tiap mau denger suara cewek yang baru akan gue kenal, haha. Anyway, sampe ketemu di sekolah ya! J”. Gue baca sms tersebut sambil ngebayangin muka excited Cozy, gue jadi teringet waktu kemarin dia bilang gue sobat terbaik dia, alhasil gue gak jadi ngirim sms ke dia. Lalu gue pun berangkat sekolah dengan perasaan gundah gulana.

Selesai jam pelajaran, Cozy sudah menunggu gue di depan kelasnya yang terletak di sebelah kelas gue. Di raut wajahnya masih tergambar raut excited seperti saat kemarin. Setelah makan siang berdua di kantin, dengan langkah berat gue terpaksa menggiring Cozy ke gedung kesenian. Kami berdua masuk melewati pintu samping, dan di dalam ternyata sudah cukup ramai, beberapa anak sedang menyiapkan set alat band di atas panggung, sementara anak-anak lainnya ada yang sedang memainkan alat musik, atau hanya sekedar mengobrol satu sama lain.

Gue berjalan ke arah depan panggung, Cozy masih mengikuti di belakang gue. Setelah melewati beberapa orang, gue liat Thara sedang mengobrol dengan seorang cewek di samping panggung, langsung gue hampiri dia. Beberapa langkah sebelum gue sampai ke tempatnya berdiri Thara melihat gue, lalu dia menyapa gue dengan suara indahnya. “Hei, To! Akhirnya yang gue tunggu-tunggu dateng juga!” katanya sambil tersenyum. Karena gue masih ngerasa gak nyaman karena ada Cozy, gue gak begitu denger apa aja yang dia bilang barusan, gue cuma membalas menyapanya. “Iya, hai Ra..oh ya, ada yang mau ketemu nih sama lo…”, “Oh ya? Siapa?” tanya Thara. Gue agak menyingkir lalu melirik ke arah Cozy, dia sedang melihat ke arah kerumunan cewek yang sedang menyanyi, mereka berdiri mengelilingi seorang cewek yang duduk mengiringi mereka dengan bermain gitar. Lalu Cozy menoleh ke arah gue sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke Thara. Lalu tanpa aba-aba dia langsung berdiri melewati gue menghampiri Thara, kemudian menyapanya. “Hei, gue Cozy. Lo yang namanya Thara ya?” kata Cozy sambil tersenyum. “Cozy? Iya, gue Thara. Ada perlu apa ya?” jawab sekaligus tanya Thara. Cozy masih terlihat bersemangat, nampaknya dia cukup puas dengan penampilan dan suara Thara. Kayaknya gue harus siap-siap cari gebetan baru, yang mungkin baru 3 bulan lagi baru bisa dapet.

“Gue mau gabung ke ekskul musik dong!” kata Cozy bersemangat. “Mau gabung? Hmm, emang apa alesan lo mau gabung sama kita?” tanya Thara. “Gue mau denger suara lo nyanyi..eh, maksud gue, gue mau belajar musik tentunya!” kata Cozy masih bersemangat. Thara menatapnya dengan tatapan ragu, lalu berkata, “Yakin itu alesan lo?”, “Iyalah! Gue mau denger lo nyanyi dong!?” pinta Cozy. “Denger gue nyanyi? Emang kenapa?” tanya Thara, nampaknya dia semakin ragu. “Abis katanya suara lo indah!” jawab Cozy. “Kata siapa?”, “Kata Tito.”, Thara lalu menatap gue dengan tatapan skeptisnya. Duh, kayaknya dia bakal ngebenci gue karena udah bawa orang aneh ke sini. “Ayo dong nyanyi!” bujuk Cozy ke Thara. “Iya-iya, tapi gue cuma mau nyanyi kalo diiringin gitarnya Tito.” Thara mengatakan hal yang sulit gue percaya. Kalo gue adalah tokoh dalam komik, pasti di atas kepala gue muncul balon dialog dengan tanda seru yang besar di dalamnya, lalu balon berikutnya dengan kata ‘EH?’ yang besar di dalamnya, menunjukan respon di dalam kepala gue ketika mendengar ucapannya tadi.

Gue masih terkejut dengan apa yang gue denger, sementara Thara menatap gue dengan tatapan seolah menyuruh gue untuk mau mengiringi dia menyanyi. Kemudian gue agak sedikit tersadar ketika Cozy menyentuh gue dengan sikunya, lalu berkata sambil berbisik, “Man, ayo dong iringin dia nyanyi, gue pengen denger nih,”, “I..Iya..” gue cuma bisa ngerespon singkat. Thara menatap gue sebentar, lalu berkata, “Yaudah, tunggu di sini, gue pinjem Gitar dulu.” kemudian dia berjalan menghampiri sekelompok cewek yang sedang bernyanyi tadi, dia terlihat bercakap-cakap sambil sesekali melirik ke arah gue dan Cozy, beberapa saat kemudian dia berjalan kembali sambil menenteng sebuah Gitar. Ketika dia kembali langsung disodorkan Gitar yang tadi dipinjamnya ke gue, “Nih! Gue mau nyanyi lagu Agnes Monica yang judulnya ‘Karena Kusanggup’,” kata Thara. Cozy terlihat senang mendengarnya, lalu bergumam, “Wah, langsung minta lagunya Agnes, pasti suaranya emang beneran bagus!”. Gue pun setuju dengan Cozy, Thara tampaknya ingin memperlihatkan kemampuannya, dan sialnya, Cozy pasti terpesona mendengarnya.

Gue membenarkan posisi gue memegang Gitar, lalu mulai memainkan kord lagu yang diminta Thara. Gue udah pasrah, gue ikutin aja deh permintaan Thara. Nada mulai mengalun keluar dari Gitar yang gue mainin, lalu Thara pun mulai menyanyi. Sebait dua bait dia nyanyikan tidak ada masalah, namun agaknya ada yang aneh dengan suaranya. Karena sangat berbeda dengan ketika dia nyanyi kemarin di markas seni musik. Suaranya berbeda, seperti agak malas menyanyikannya, dia pun tidak memperdengarkan teknik olah vokalnya, dia hanya menyanyi datar. Apa dia sengaja ya?

Cozy masih fokus mendengar sambil mengernyitkan dahi. Lagu sudah memasuki bagian reff, Thara masih menyanyi dengan suaranya yang berbeda. Lalu ketika memasuki bagian yang mengharuskan dia untuk teriak dan dia tidak melakukannya dengan benar, Cozy menyuruh gue berhenti, kayaknya dia gak puas sama apa yang dia denger. Lalu berkata ke gue, “To, kata lo dia jago nyanyi dan suaranya bagus? Kok begini?”, “Me…menurut gue, suara dia pas nyanyi tadi bagus kok.” kata gue terbata sambil melirik ke arah Thara, yang sedang menatap ke arah gue sama Cozy. “Ah, payah lo, man, ternyata selera lo dalam menilai suara cewek beda jauh sama gue,” cibir Cozy. “Gimana udah puas?” kata Thara menyelak pembicaraan. “Hmm, ya lumayan! Tapi…kayaknya gue gak jadi masuk ekskul ini sekarang deh, gue ada urusan mendadak. Jadi gue cabut ye! Sorry udah ganggu acara latian kalian.” kata Cozy ke Thara lalu bersiap-siap untuk beranjak pergi. Ketika lewat di depan gue dia berbisik, “Gue duluan deh, man, gue cari cewek sendiri aja, lebih terjamin!” gue cuma merespon dengan mengangguk, lalu Cozy berjalan menuju pintu keluar, gue memperhatikannya berjalan sampai hilang dibalik pintu, ada sedikit perasaan gak enak karena udah bikin sobat gue kecewa.

Sementara Thara masih berdiri di belakang gue, gue masih takut dia akan ngebenci gue karena kejadian barusan. Gue bingung harus bilang apa ke dia, apa gue harus minta maaf? Namun sebelum gue sempat membalik badan dan berkata sesuatu ke dia, tiba-tiba dia ada di sebelah gue, dengan satu tangannya di atas pundak gue, lalu berkata, “Hei, makasih ya tadi udah ngebela gue,” gue menoleh ke arahnya, lalu tatapan mata kita berdua pun bertemu. Gue jadi ngerasa gugup dengan hal ini, dan menjadi salah tingkah, tapi gue berusaha untuk menguasai keadaan. “Eh..ngebela lo..yang mana ya?” kata gue sambil sedikit terpatah-patah. “Tadi, waktu lo bilang suara gue pas nyanyi tadi bagus, padahal sengaja gue jelek-jelekin.” kata Thara. “Oh itu..lo sengaja ya, pantesan beda banget sama kemarin. Emang kenapa lo jelek-jelekin?” tanya gue. “Yah, tadinya gue berniat buat nunjukin kemampuan gue nyanyi, tapi pas gue tadi minjem Gitar, gue dikasih tau sama cewek-cewek di sana,” dia berkata sambil menunjuk ke sekelompok cewek yang sedang acapella di seberang dari tempat gue berdiri sekarang. “Gue dikasih tau kalo temen lo yang tadi itu, dia si anak kelas 1.9 yang gila sama suara cewek kan? Ternyata ada gosip di antara cewek-cewek, kalo dia udah nolak semua cewek dari kelas 1 cuma karena suaranya gak ada yang dia suka. Gila, sok banget gak tuh? Emang sih dia ganteng, tapi kalo caranya gitu mana ada cewek bener yang mau sama dia?” kata Thara menjelaskan panjang lebar. Oh, ternyata begitu! Gue tertolong karena ulah si Cozy sendiri, gue juga baru tau kalau sekarang dia punya imej begitu di antara cewek-cewek. Yah, sebenernya gue kasian juga sama sobat gue yang aneh itu, tapi untuk saat ini biarlah, mungkin suatu saat gue akan ngebantu dia lagi, tetapi bukan ke Thara lagi tentunya!

“Dan makasih lagi ya, To,” kata Thara sambil setengah berbisik. “Tadi dia ke sini gara-gara lo ngasih tau dia suara gue bagus kan? Gue sih gak suka akibatnya, tapi gue seneng lo bilang begitu!” lanjutnya, lalu memperlihatkan senyumnya yang indah. Dengan melihatnya kadar cinta gue rasanya naik berkali-kali lipat. Gue pun membalas senyumnya, lalu kembali mengobrol. Tak lama kemudian temen-temen band gue dateng, lalu sesuai janjinya kemarin, Thara menonton gue latian sama temen-temen. Hari ini gue kembali ngerasa bahagia kayak kemarin, tetapi gue rasa, kebahagiaan kali ini akan terus terasa sampai selamanya. Hmm, Hiperbola deh.

Hari-hari berikutnya, kehidupan SMA gue terasa indah. Gue sama Thara semakin deket, dia jadi sering lagi main ke markas seni musik seselesai sekolah, terkadang dia sampai bela-belain bolos les pelajaran di hari Senin agar bisa nonton gue latian band di gedung kesenian. Dan karena kita sering menghabiskan waktu bersama, gue pun udah gak gugup lagi berlaku di depan dia, gue udah bisa berlaku normal selayak gimana diri gue. Gue bahagia karena akhirnya bisa deket sama cewek yang dulu gue taksir diam-diam, dan kayaknya gue harus segera melepas topeng dan berhenti menjadi Ninja dengan tidak lagi menyembunyikan perasaan gue yang sebenarnya ke Thara.

Namun hal ini menjadi masalah baru bagi gue, setelah gue berhasil mengatasi masalah lama gue ketika berhadapan dengan cewek, ternyata masalah yang lebih berat menghadang. Gue belum pernah nembak cewek sebelumnya. Beberapa kali ketika gue sedang berduaan sama Thara, entah ketika itu sedang berdua di markas seni musik atau ketika kita sedang malam mingguan di salah café di dekat sekolah, gue ngebayangin kalo saat itu gue akan nembak dia. Gue udah kepikiran kata-kata ‘ajaib’-nya, tapi untuk mengatakannya, sangat-sangat-sangatlah sulit. Gue belum punya keberanian untuk mengatakan-‘nya’. Padahal gue sangat beruntung, karena suatu waktu Thara cerita kalau dia baru 2 bulan yang lalu diputusin pacarnya yang pergi merantau untuk kuliah di luar kota.

3 minggu berlalu sejak hari gue dikira maling di markas seni musik. Saat ini, hari Jumat, malam Sabtu, gue lagi sms-an sama Thara, suatu hal yang saat ini udah terbiasa gue lakuin. Obrolan kita berdua lagi sekitar acara ulang tahun sekolah yang akan diadakan hari Sabtu minggu depan, di salah satu sms-nya, Thara yang akan bertugas sebagai salah satu pengurus Seksi Acara bilang kalo ekskul seni musik masih kekurangan peserta untuk tampil di acara nanti. Mengetahui hal itu, tiba-tiba terbersit di kepala gue ide untuk mengajak Thara tampil duet menyanyikan lagu sama gue, gue langsung coba menanyakannya di-sms berikutnya, lalu ia membalasnya seperti ini; “Nyanyi duet!? Boleh juga tuh ide lo! Tapi, emangnya lo bisa nyanyi? Hehehe”, gue tersenyum membacanya, lalu langsung mengetik sms balasan; “Bisa kok! Lagian kan masih ada waktu seminggu untuk latian, terus ada lo juga yang bisa ajarin gue nyanyi, hehe. Tapi yang penting, lo mau gak?”.

Gak perlu waktu lama untuk menerima sms balasan darinya yang berbaca; “Mauuuuuuu kok! J Mulai besok aja kita latihan, gimana? Di rumah gue ya tapi! Oh ya, terus mau bawain lagu apa?”. Ini dia, lagu apa ya kira-kira? Lagu romantis yang bisa menggambarkan keadaan gue sama Thara saat ini. Tiba-tiba gue teringat lagu Jason Mraz yang dinyanyikan dengan Colbie Caillat, berjudul “Lucky”. “Perfect!” pikir gue, lagu itu kayaknya cukup mewakili perasaan gue sekarang, selain itu, lagu itu juga lagu duet, kian menambah sempurna rencana gue. Langsung gue ketik sms balasan untuk Thara; “Gue tau lagu yang bagus! Lagunya Jason Mraz feat. Colbie Caillat! “Lucky”! Gimana menurut lo?” beberapa detik kemudian sms sudah terkirim, gue tinggal menunggu balasan. Kira-kira gimana ya responnya? Apa dia setuju? Apa menurutnya lagu itu juga ‘perfect’ untuk kita bawain? Apa jangan-jangan  dia bisa ngeliat maksud tersembunyi gue dibalik semua ini? Di dalam kepala gue muncul berbagai macam pertanyaan dan dugaan, selain itu Thara gak kunjung membalas sms gue, 10 menit berlalu, gue takut jangan-jangan dia tau kalo gue suka sama dia? Dan sebenernya dia gak mau itu? Gue masih berpikir macam-macam sebelum akhirnya 5 menit kemudian, sms yang ditunggu-tunggu pun tiba. Langsung gue baca; “Maaaaf To balesnya lama, tadi gue dipanggil mama, hehe. Wah, bener juga, “Lucky” ya? Perfect! Gue setuju deh.” gue seneng setengah mati baca sms balasannya, ternyata dia berpikir hal yang sama, menurutnya lagu itu sempurna untuk kita! Lalu gue baca lanjutannya dari isi sms-nya; “Yaudah, besok lo ke sini ya! Bawa Gitar lo, besok gue sms deh jamnya oke? J Oh ya btw, lo tau gak bla..bla..bla…”. Lalu kita lanjut sms-an ria sampai larut, walaupun sebenernya gue pengen cepet-cepet tidur karena gak sabar untuk besok datang ke rumahnya. Uh, kayaknya gue bakal mimpi indah malam ini!

Keesokan harinya, sekitar jam 1 siang gue sampai di depan rumah Thara. Lalu dia keluar dan menyambut gue. Ini bukan pertama kalinya gue ke sini, karena sebelumnya sudah beberapa kali gue mengantar dia pulang sepulang sekolah, tapi baru kali ini gue masuk ke rumahnya. Gue ketemu dengan ibunya, juga dengan adik satu-satunya yang masih kelas 2 SD. Lalu kami berdua duduk di teras depan, setelah bercengkrama beberapa saat, kami pun memulai latihan.

Tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Gue selalu sebel kenapa tiap kita melewatkan waktu melakukan hal yang kita senang waktu terasa begitu cepat berlalu, sungguh suatu fenomena yang gue sangat ingin tau jawabannya. Saat ini gue sama Thara masih bercengkrama di teras depan rumahnya, latihan lagunya kami rasa cukup untuk hari ini, walaupun dari tadi gue rasa lebih banyak ngobrolnya daripada latihannya. Saat ini Thara sedang bercerita tentang pengalamannya pentas satu tahun yang lalu, “Masa nih ya, waktu gue nyanyi, tiba-tiba ada bapak-bapak dari bawah maksa naik ke atas panggung, terus dia joget-joget gitu di sebelah gue, dan yang lebih absurd lagi, sebelum dia turun dia ngasih gue selembar duit 100 ribuan, gue disawer! Gila gak tuh? Emangnya gue penyanyi Dangdut apa? Selesai manggung gue diketawain sama temen-temen band gue, tapi abis puas ngetawain gue mereka malah minta ditraktir pake duit saweran tadi, sialan banget deh pokoknya!” kata Thara menggebu-gebu. Gue tertawa mendengarnya, lalu dia pun ikut tertawa. Cara dia menceritakan sesuatu sangat menyenangkan, ceritanya jadi terdengar lebih seru, ini juga yang jadi salah satu alasan gue betah ngobrol lama-lama sama dia.

Setelah Thara selesai menceritakan kisahnya tadi, keadaan menjadi sunyi selama beberapa detik, kami seakan kehabisan atau kebanyakan hal untuk dibicarakan, jadi bingung mau ngomongin apa lagi. Gue juga lagi mikir ingin membahas topik apa lagi sebelum tiba-tiba Thara mengagetkan gue dengan pertanyaannya. “Eh ya, gue mau nanya deh, boleh kan?” tanya Thara, tiba-tiba raut wajahnya menjadi serius. “Boleh lah, emang mau nanya apa deh?” jawab sekaligus tanya gue. Thara masih menatap gue serius, lalu setelah menghela nafas, dia kembali bertanya, “Gue mau tau alesan lo kenapa milih lagu ‘Lucky’ buat kita nyanyiin nanti?”, “G..g..gak ada alesan apa-apa kok, menurut gue lagu itu bagus aja,” karena kaget dan tiba-tiba merasa gugup, gue menjawab tanpa berpikir, jawaban yang salah. “Yakin gak ada alesan khusus?” tanya Thara lagi, yang masih menatap gue serius. “I..iya gak ada kok…” jawab gue asal lagi. Thara lalu mengalihkan pandangannya, tampaknya dia kecewa dengan jawaban gue. Lagian kenapa gak gue bilang aja sih yang sejujurnya? Duh, bodohnya gue! Sekarang gue harus mengatakan sesuatu, kalau gak kesempatan gue sama Thara bisa hancur gara-gara blunder gue barusan.

“Emm, ta..tapi..” kata gue sambil terbata, lalu Thara menoleh dan menatap gue kembali, diwajahnya tergambar raut muka bete. “Hmm, gi..gimana kalo kita anggap gini aja, gue pu..punya alesan khusus, tapi gue gak bisa ka..kasih tau lo sekarang, tapi gue bakal ngasih tau lo pas acara ulang tahun sekolah kita nanti, gi..gimana?” kata gue dengan susah payah menahan gagap dan rasa malu, Thara masih menatap gue dengan raut betenya, lalu berkata, “Kenapa harus saat itu? Kenapa gak sekarang aja?”, “Yah…bi..biar seru aja, he..ehehe,” jawab gue sambil memaksakan untuk tersenyum. Sementara Thara hanya terdiam menatap gue selama beberapa saat, lalu tanpa diduga-duga dia pun berkata, “Hmph, baiklah, gue ikutin cara lo. Tapi, lo janji ya lo harus bilang saat itu!”. Mendengar hal itu gue serasa baru saja keluar dari dalam perut Buaya dalam keadaan masih hidup, gue selamat dari kesalahan gue sendiri! Sekarang kesempatan gue masih terjaga, tinggal menyiapkan mental untuk benar-benar ‘mengatakannya’ minggu depan. “Iya, gue janji!” kata gue ke Thara, lalu dia pun tersenyum manis. Ah, cewek emang makhluk yang gak bisa ditebak!

Di perjalanan pulang pikiran gue menerawang jauh memikirkan minggu depan. Kayaknya gue harus memikirkan suatu rencana untuk menyatakan cinta gue ke Thara. Tapi gue mau sesuatu yang gak biasa, tapi..gimana ya enaknya? “Ah! Benar juga!”, tiba-tiba terbersit ide brilian di kepala gue. Yang lalu gue pikirkan dan matangkan di sepanjang perjalanan gue pulang ke rumah. Hmm, gue gak sabar menunggu hari Sabtu depan!

Bersambung

Selasa, 14 Februari 2012

“Pangeran Kecilku”

Hari itu merupakan hari yang cerah, Matahari memandikan bumi dengan sinarnya yang terang, sambil ditemani lautan awan putih yang menyelimuti langit, hari yang sempurna untuk menuntut ilmu. Saat ini keadaan di SDN Simfoni IX sangat sunyi, waktu belajar sedang berlangsung. Yang bisa terdengar hanya suara guru yang sedang menerangkan pelajaran, sambil diiringi suara goresan kapur di papan tulis. Di kelas 2.B, bu Nita sedang mengajarkan perkalian, semua muridnya diam memperhatikan dia menulis angka-angka di papan tulis, kecuali seorang pria kecil yang duduk di pojok kelas. Dia sedang sibuk menulis di secarik kertas sambil sesekali melirik cewek yang duduk berjarak 3 meja dari tempat dia duduk.
Nama cowok kecil itu adalah Tommy. Belakangan ini dia merasa gak bisa fokus belajar, karena ada suatu hal yang sedang bereaksi di dalam dirinya, ya, dia sedang jatuh cinta. Nama malaikat kecil pujaan hatinya bernama Derisha, seorang cewek dengan rambut keriting panjang. Semuanya berawal dari kejadian beberapa hari yang lalu, yaitu pada saat ulangan pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah ulangan selesai, buku ulangan murid-murid pun dikumpulkan di meja guru, lalu kemudian dibagikan lagi secara acak untuk dikoreksi bersama-sama. Tommy mendapat buku tulis Derisha, dan ketika dia melihat tulisan Derisha, dia terpesona. Ini merupakan pertama kalinya dia melihat tulisan cewek, tulisan tangan Derisha sangat bagus dan sangat rapih, sangat berbeda dengan tulisan tangan Tommy atau tulisan tangan cowok teman semejanya yang berantakan. Kemudian dia berusaha mencari tahu siapa cewek yang bernama Derisha, karena kelasnya terdiri dari 50 orang anak dan dia belum hafal semua muka dan namanya.
Ketika Tommy berhasil menemukan sesosok cewek yang bernama Derisha, kebetulan saat itu Cupid sedang membawa anaknya jalan-jalan-atau terbang-terbang-untuk latihan menembak panah, lalu ketika melihat Tommy yang sedang terpesona menatap Derisha, dia pun menyuruh anaknya untuk mencoba kemampuannya. Lalu dengan bimbingan sang ayah, si Cupid Junior pun melepaskan anak panah dan tepat mengenai hati Tommy. Dan kemudian begitu saja, Tommy pun jatuh cinta pada Derisha.
Saat ini Tommy sedang membaca secarik kertas yang tadi ditulisnya. Tulisan yang bengkok-bengkok itu jika dibaca akan berbunyi; “Hai Derisha nanti pas istirahat temuin aku dihalaman belakang kelas ya aku mau kasih tau pentiiiing Tommy”. Setelah puas dibacanya Tommy memberikan kertas itu ke teman yang duduk di meja sebelah dari mejanya untuk kemudian diteruskan ke Derisha. Bu Nita sedang mengajarkan perkalian 9 x 9 di papan tulis saat kertasnya Tommy akhirnya sampai di tangan Derisha. Dibukanya lipatan kertas tersebut lalu dibacanya, kemudian dia menoleh ke arah Tommy, sementara Tommy balas melihatnya dengan tersenyum. Tiba-tiba sekelas dikagetkan dengan suara teriakan bu Nita, “Tommy! Kamu bukannya perhatiin ibu ya! Malah senyum-senyum sendiri!”, Tommy pun kaget, bu Nita dan seisi kelas sedang memperhatikannya. Lalu hal yang lebih buruk pun terjadi, “Coba! 9 x 9 hasilnya berapa Tommy?” tanya bu Nita sambil berjalan ke arah meja Tommy. Sementara Tommy menjadi panik karena tidak tahu jawabannya, “Se..sembilan dika..kali sembilan..se…sembilan sembilan bu?”. Lalu tawa meledak di kelas 2.B, sekelas menertawakan Tommy dan dia juga mendapat hukuman dari bu Nita berupa jeweran di kedua telinga.
Kemudian bel istirahat berbunyi nyaring, Tommy masih menggosok-gosok kedua telinganya yang memerah karena dijewer bu Nita tadi. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke halaman belakang kelas 2.B. Derisha yang melihat Tommy berjalan keluar kelas pun berdiri lalu mengikutinya karena dia penasaran dengan hal penting yang ingin Tommy sampaikan.
Di belakang bangunan kelas 2, yaitu sepanjang deretan kelas 2.A, 2.B dan 2.C, terdapat sebuah halaman yang lebarnya sekitar 4 meter sampai dengan pagar sekolah. Di halaman tersebut banyak terdapat berbagai macam tanaman yang ditanam dan dirawat oleh murid-murid kelas 2. Halaman tersebut biasa dijadikan tempat bermain ketika waktu istirahat, ada yang main kejar-kejaran, atau hanya duduk-duduk memakan bekal dengan teman-teman sambil melihat bunga-bunga yang tumbuh di belasan pot yang berjejer rapih. Namun tepat di belakang kelas 2.B, terdapat sebuah pohon Ceri besar yang tumbuh lebat, sehingga di bawah pohon itu menjadi rindang tak terkena sinar Matahari. Di batang pohon tersebut banyak terdapat coret-coretan dari anak-anak yang iseng, ada yang mengukir menggunakan batu tetapi kebanyakan mengunakan tip-x, banyak hal-hal yang tertulis di sana, seperti “Power Ranger”, “RONNY SI SPIDERMAN”, atau yang mulai menyerempet ke cinta-cintaan seperti, “Yudha love Ani”, “Nobita  Shizuka”, atau “Pasqual sayang Yuni”, dan masih banyak hal-hal aneh lainnya hasil pikiran anak SD.  Ketika pohon Ceri itu sedang berbuah matang, anak-anak akan mengerumuni pohon itu dan berebut memetik buah Ceri dengan sebatang tongkat pemetik yang ada di sana. Namun saat ini pohon Ceri tersebut belum berbuah matang, hanya buah-buah kecil berwarna hijau yang menggantung di sela-sela dedaunan, sehingga tidak menarik minat anak-anak untuk berburu buah Ceri.
Saat ini di bawah pohon Ceri yang rindang sedang berdiri dua anak muda yang akan mengukir sejarah di lembar kehidupan mereka. Derisha menghampiri Tommy ketika dia sedang berusaha mencari buah Ceri yang sudah memerah, lalu menyapanya. “Hai Tom,” sapa Derisha dengan tipikal suara imut cewek yang masih kecil. “Hai Derisha,” balas Tommy sambil berbalik badan menghadap Derisha. “Emang kamu mau kasih tau apa?” tanya Derisha langsung. “Aku suka sama kamu, Sha.”, tembak Tommy tanpa beban dan keraguan. Derisha tersenyum mendengarnya, “Suka sama aku? Waah, makasih ya!”. Derisha terlihat senang mendengarnya. “Terus, hal pentingnya yang kamu mau kasih tau apa?” tanya Derisha lagi. “Ya itu tadi,” balas Tommy langsung, “Aku mau kamu jadi pacar aku, kamu mau gak?”. “Pacar itu apa?” tanya Derisha polos, wajahnya terlihat bingung. “Aku mau kita pacaran,” kata Tommy lagi, tetapi hanya membuat Derisha semakin bingung, “Pacaran itu ngapain?”.
“Kamu gak tau pacaran?” tanya Tommy yang agak kaget karena Derisha gak tau tentang pacaran. “Nggak. Emang apa?” tanya Derisha, wajahnya terlihat penasaran karena ini adalah pertama kali bagi dia denger kata ‘pacaran’. “Pacaran itu, cowok sama cewek berduaan, pegangan tangan.” kata Tommy menjelaskan. “Terus?” tanya Derisha lagi yang masih belum mengerti. “Hmm, pokoknya mereka cuma boleh berduaan! Gak boleh sama orang lain.” kata Tommy asal, padahal dia cuma sok tahu. “Iih, gak seru dong, gak bisa main rame-rame! Gak mau ah.” kata Derisha. “Ih, bukaan! Kalo cuma main aja mah gak apa-apa!” kata Tommy lagi masih berusaha membujuk. “Jadi apa dong? Kamu gak jelas ngomongnya!”.
“Hmm..apa ya..pacaran itu..hmm…”, kata Tommy bingung, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Hihihih, kamu lucu! Masa kamu yang ngajak aku tapi kamu gak tau. Aneh kamu.” kata Derisha sambil tertawa geli, sementara Tommy merasa malu, pipinya memerah, ini pertama kalinya dia merasa malu karena diledekin cewek, padahal biasanya dia dan teman-temannya yang suka meledek dan iseng kepada cewek. “Uuuh, po..pokoknya kalo pacaran itu berduaan terus deh!” kata Tommy berusaha mengelak karena malu.
“Emang kamu tau pacaran darimana?” tanya Derisha yang sekarang merasa kalau Tommy itu cowok yang aneh. “Dari kakakku.” jawab Tommy. “Kakak kamu gimana kalo pacaran?”  tanya Derisha lagi. “Hmm, dia kalo pulang sekolah selalu dianter pacarnya, terus pacarnya juga suka main ke rumah aku, terus kalo malem minggu kakak aku selalu jalan-jalan keluar sama pacarnya.”. Tommy berusaha menjelaskan sebanyak yang dia tau dari hubungan kakaknya. “Oooh. Emang kakak kamu kelas berapa” tanya Derisha yang menjadi semakin penasaran. “Kelas 3 SMA”, “Ih, pantesan kakak kamu mah udah gede jadi boleh kayak gitu, kita kan masih anak-anak. Aku pasti dimarahin mama kalo malam-malam pergi keluar. Aku gak mau ah pacaran.”.
“Tapi..tapi aku suka sama kamu Sha, aku cinta sama kamu,” Tommy masih berusaha membujuk. “Cinta? Itu apa lagi?” tanya Derisha polos. Tommy menjadi bingung lagi untuk menjelaskan, karena dia sendiri sebenarnya gak tau apa itu cinta. Keadaan menjadi sunyi sesaat, beberapa anak sedang bermain kejar-kejaran melewati mereka. “Cinta itu..kayak…kayak perasaan aku ke kamu sekarang,” kata Tommy berusaha menjelaskan. “Emang rasanya gimana?” tanya Derisha karena gak bisa membayangkannya. “Rasanya..rasanya spesial, yaa..ya kayak gini!”, “Gimana?” tanya Derisha masih bingung. “Aduh!” Tommy pun menjadi ikut-ikutan bingung. “Hmm, mungkin rasanya sama kayak perasaan kamu ke aku sekarang. Gimana rasanya?” tanya Tommy. Sementara Derisha diam sebentar, berusaha merasakan sesuatu. “Hmm, gak ada rasa apa-apa, biasa aja tuh.”. Sebenarnya yang baru saja terjadi ke Tommy adalah “Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan”, tetapi karena dia masih anak-anak, buat dia hal itu masih terlalu rumit untuk disadari oleh akal pikirnya. Derisha pun demikian, dia tidak menyadari kalau dia sedang menolak cowok yang suka padanya, karena sebenarnya dia tidak mengerti situasi ini, baginya ini hanyalah obrolan biasa antar teman sekelas.
“Emangnya kamu gak pernah denger cerita yang ada cinta-cintanya?” tanya Tommy yang masih berusaha untuk membuat Derisha mengerti perasaannya. “Mmm, kayaknya pernah sih. Dulu mama aku pernah cerita tentang seorang putri kerajaan yang diculik, terus dia diselamatin sama pangeran yang datang bawa pedang dan naik kuda putih. Si putri selamat dan katanya pangeran itu cinta sejatinya, abis itu mereka hidup bahagia selamanya.” kata Derisha menjelaskan sambil mengingat-ingat cerita mamanya. “Nah itu dia!” kata Tommy bersemangat, akhirnya dia mendapatkan cara untuk mejelaskan perasaannya. “Kalo gitu anggap aja aku pangeran yang dateng nyelametin kamu, aku cinta sejati kamu!”. “Ih, kayaknya nggak deh. Kamu gak pernah nyelametin aku, kamu gak punya kuda putih, kamu juga bawa pedang. Aku gak mau.” tolak Derisha. Lalu layaknya orang yang belum mengenal kata menyerah-karena memang begitu adanya-Tommy kembali berusaha membujuk Derisha, dia pun berkata, “Jadi, kalo aku nyelametin kamu, terus aku ke sekolah naik kuda putih, dan bawa pedang, kamu mau pacaran sama aku, Sha?”.
“Mau!” jawab Derisha, Tommy pun senang mendengarnya. “Tapi emang kamu punya pedang sama kuda putih?” tanya Derisha. “Gampang, nanti aku minta sama mama aku. Besok aku bawa ke sekolah deh. Tapi kamu janji ya kamu mau jadi pacar aku besok?” tanya Tommy untuk memastikan. “Iya aku janji, kamu juga janji ya!” jawab Derisha, yang membuat Tommy senang sepenuh hati mendengarnya. Karena pikiran anak-anak, mereka berdua sama-sama percaya kalau besok Tommy akan bisa datang ke sekolah dengan menaiki kuda putih dan membawa pedang selayaknya pangeran di cerita dongeng. “Yaudah, aku ke kelas ya, aku mau makan bekal makan siangku”, kata Derisha. “Iya aku juga, bareng yuk!” lalu mereka berdua beranjak kembali ke kelas.
Sesampainya di rumah, Tommy langsung menghampiri ibunya lalu meminta dibelikan kuda putih dan pedang sungguhan, yang tentu saja ditolak ibunya. Tommy menangis dan merengek selama beberapa jam, lalu ketika dia sudah capek membujuk ibunya yang tidak ada hasil, dia pun mengurung dirinya di kamar. Dia merasa sedih karena merasa sudah berjanji pada Derisha, dia juga merasa kalau keadaannya begini, dia tidak akan bisa mendapatkan cewek yang disukainya. Dia masih berusaha untuk tetap menangis dengan harapan ibunya akan mendengarnya lalu memutuskan untuk menuruti permintaannya.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang masuk ke kamar Tommy. Tommy berharap kalau itu ibunya, namun ternyata itu kakaknya. Seperti yang Tommy bilang, kakaknya adalah murid kelas 3 SMA, dia bernama Thara. Tommy sangat dekat dengan kakaknya, selain karena mereka hanya 2 bersaudara. “Kamu kenapa toh dek?” tanya kakaknya cemas sambil duduk di pinggir kasur Tommy. “Anu..kak…”, Tommy pun menjelaskan semua yang terjadi di sekolah tadi, tetapi kakaknya malah tertawa mendengar ceritanya. “Hahahahaha! Serius kamu bilang begitu!? Hahahaha, adekku ini emang lucu lucu lucuu!” kata Thara sambil mencubit kedua pipi adiknya. “Ja..jadi gimana dong kak? Aku kan udah janji sama dia…” tanya Tommy sambil memelas. “Hihihi, ya gak mungkin lah mama mau nurutin kamu!”, “Emang kenapa kak?”, “Nih ya, kuda putih itu jarang ada, harganya juga mahal, kasian mama. Selain itu kalo kamu ke sekolah naik putih yang ada orang-orang malah ngetawain kamu! Hahaha” jelas Thara sambil kembali mencubit pipi adiknya. “Selain itu juga, pedang sungguhan tuh bahaya, kamu kan masih belum boleh pake alat-alat yang tajam, inget kan?”, “Iya sih kak..tapi…jadi aku harus bilang apa dong besok?” tanya Tommy. Thara menatap wajah adiknya sambil tetap menahan tawa karena kepolosan anak-anak. “Yaudah nih, kakak kasih tau, kamu dengerin yah! Besok kamu bilang gini aja…bla..bla..bla”.
Keesokan harinya di sekolah, Tommy kembali menggunakan cara yang sama dengan kemarin untuk mengajak Derisha ketemuan, tetapi dia sudah lebih hati-hati untuk menghindari jeweran dari bu Nita. Lalu ketika waktu istirahat, kedua anak muda ini pun kembali bertemu di bawah pohon yang sama. “Mana kuda putih sama pedang kamu? Kok gak keliatan?” tanya Derisha, sementara Tommy merasa gak nyaman, karena ini merupakan yang pertama kalinya dia merasa kalau dia akan mengecewakan orang lain. “Maaf Sha, kata mama aku, kuda putih gak boleh dibawa ke sekolah, terus pedang juga gak boleh, kan bahaya buat anak kecil, terus…”, belum sempat Tommy menyelesaikan kalimatnya, Derisha memotongnya. “Yaaah, payah. Aku gak suka sama orang yang ingkar janji!” kata Derisha dengan nada kecewa. “Yah, tapi..denger aku dulu dong Sha!” kata Tommy memohon, karena Derisha kelihatan ingin beranjak meninggalkannya. “Apa?”, “Tanpa kuda dan pedang pun aku tetep bisa kok nyelamatin kamu, aku mau jadi pangeran pelindung kamu.” kata Tommy, mengulang kalimat yang diajarkan kakaknya kemarin. Tetapi kemudian langsung dipotong lagi oleh Derisha. “Gak mungkin lah. Kalo kamu punya pedang, kalo ada orang jahat yang ganggu aku, langsung bisa kamu kalahin pake pedang itu. Terus kalo ada orang jahat yang ngejar kita, kita bisa lari naik kuda kamu. Kalo gak punya 2 itu mana bisa ngelindungin aku? Aku gak mau ah.” kata Derisha berdasarkan logika cewek kecilnya. “Gak juga, aku pasti bisa kok walaupun tanpa itu,” kata Tommy kembali mencoba membujuk. “Coba buktiin?” tantang Derisha. “Hmm, yah..liat aja nanti, sekarang kan lagi gak ada masalah?”, “Iya. Liat aja nanti, gak bakalan bisa. Yaudah, aku ke kelas ya.”. Lalu Derisha kembali ke kelas, meninggalkan Tommy yang merasa kecewa karena Derisha tidak mau mengerti juga. Tetapi dalam hatinya Tommy tetap bertekad untuk membuktikan, kalau dia adalah pangeran tanpa kuda putih dan pedang yang bisa melindungi Derisha.
Setelah istirahat, kegiatan belajar kembali dilanjutkan. Bu Nita sedang mengajarkan pelajaran IPA di depan kelas, anak-anak yang lain sibuk memperhatikan, terkecuali Tommy yang masih sibuk memikirkan usaha pembuktiannya ke Derisha. Di sela-sela suara bu Nita yang menggaung disekujur kelas, tiba-tiba anak cewek yang duduk di sebelah Derisha teriak histeris. “Bu gurluuuuuu! Derlisha ngompooool!” seketika semua tatapan mata di kelas mengarah ke Derisha, lalu kelas meledak dengan suara tawa ketika memang terlihat genangan air di bawah kursi Derisha. Derisha yang tak mampu menahan rasa malu pun akhirnya menangis dengan menutupi wajahnya dengan buku tulisnya.
Melihat hal itu, tiba-tiba di dalam kepala Tommy terbersit sebuah ide ksatria. Selagi seisi kelas masih tertawa Tommy beranjak dari kursinya lalu berlari menuju ke depan kelas. Pandangan seisi kelas sekarang sedang menatap Tommy, lalu tanpa diduga-duga, Tommy pun ikut mengompol dan membasahi celananya tepat di depan mata semua teman-teman sekelasnya. Tak ayal seisi kelas kembali tertawa, tetapi kali ini menertawakan Tommy. Derisha kemudian membuka wajahnya yang tadi ia sembunyikan, kemudian menyadari kalau saat ini teman-temannya tidak sedang menertawakan dia, melainkan menertawakan Tommy yang memang sengaja menarik perhatian kelas darinya.
Lalu secara kebetulan-lagi-Cupid Junior sedang mengunjungi kelas 2.B karena penasaran dengan keadaan Tommy. Namun saat ini pun ia sedang tertawa terbahak-bahak melihat ulah Tommy. Sebelum kemudian dia tersadar dengan tugas barunya. Diambilnya sebatang anak panah dan mengangkat busurnya. Lalu dilepasnya sebatang anak panah cinta tersebut, yang meluncur secara kasat mata diantara gema suara tertawa yang mengiringi suasana di kelas 2.B. Kemudian anak panah tersebut tertancap sempurna di hati Derisha, yang masih menatap Tommy. Derisha pun seolah merasa ada sesuatu yang terjadi di hatinya, yang kemudian dia membuat tersadar akan apa yang telah dilakukan Tommy untuk dirinya. Dia pun akhirnya bisa merasakannya, rasa cinta.
Tommy masih berdiri di depan kelas, sebenarnya dia juga menahan rasa malu dan rasa ingin menangis yang hampir tak tertahankan. Satu-satunya yang bisa bikin dia bertahan adalah karena di kelas tersebut ada Derisha, menurutnya seorang pangeran tidak akan menangis di depan puteri pujaannya. Bu Nita hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang baru saja terjadi di kelasnya, sebelum kemudian dia menggiring Tommy dan Derisha ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Tommy dan Derisha dibawa ke ruang guru untuk kemudian dipinjamkan celana dan rok ganti. Saat ini mereka sedang duduk di kursi di luar ruang guru, menunggu bu Nita sebelum kemudian dia akan membawa mereka kembali ke kelas. Derisha masih menangis tersedu-sedu sejak dari kamar mandi tadi, dia masih syok dan merasa malu akan yang baru saja terjadi. Sementara Tommy, dia bingung harus berbuat apa di depan cewek yang sedang menangis. Ini pertama kali baginya mendengar suara tangisan cewek, yang menurutnya dia gak kuat mendengarnya, karena dia jadi merasa kasihan dan merasa bisa ikut merasakan kesedihan hanya dari mendengar suara tangisannya. Hal ini juga yang membuat Tommy bertekad untuk tidak ingin membuat cewek menangis di sepanjang hidupnya nanti.
Derisha masih menangis tersedu-sedu, tangannya yang kecil mengusap kelopak matanya yang basah karena air mata. Tommy masih mengamatinya, kemudian memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. “Kok masih nangis sih? Kan aku udah nyelamatin kamu tadi?” kata Tommy berusaha menghibur Derisha. Derisha kemudian membuka matanya dan menatap Tommy. “Udah aku buktiin kan, kalo aku bisa ngelindungin kamu?” kata Tommy lagi. Derisha masih menatap Tommy, kemudian dia mengangguk sambil terus berusaha mengendalikan tangisnya. “Berarti aku bisa kan jadi pangeran kamu?” tanya Tommy lagi. Derisha kembali mengangguk, dan akhirnya bisa menghentikan tangisnya. “Oke! Nah, berarti kamu jadi puteri yang harus aku jaga dan lindungin dengan hidup aku!” kata Tommy sambil tersenyum. Derisha pun membalas senyumnya lalu berkata, “Iya, makasih ya, pangeranku!”.

P.S: Selamat merayakan hari Valentine! Cinta itu indah ‘kan? J

Minggu, 12 Februari 2012

Kisah Cinta Si Laki-laki Pemalu Bag. 1

“1..2..3..4..”

JREEEEEEENGG~

Alunan musik terdengar dari gedung kesenian SMA Smasuka, intro dari lagu “Diam Tanpa Kata” dari band D’Masiv menggema di setiap sudut ruangan. Saat ini, anak-anak dari ekskul seni musik sedang berlatih di sana. Sebuah panggung yang cukup besar sedang dijadikan sebagai lahan unjuk kemampuan oleh 5 orang cowok, yaitu Budi yang bermain Drum, Ipan yang membetot Bass, Eko yang membesut Gitar, Wawan yang berada di ujung panggung menyanyi dengan lantang, lalu gue, seorang cowok bernama Tito yang juga memegang instrumen Gitar. Kami berlima adalah salah satu dari sekian grup band di SMA Smasuka, yang terbentuk dari ekskul seni musik yang beranggotakan sekitar 30 murid dari semua kelas. Gue berasal dari kelas 1.10, sementara keempat temen gue tadi sebenernya adalah senior gue, mereka dari kelas 2.6, hanya Eko yang berasal dari kelas 2.7. Sementara kami berlima tampil, anggota ekskul yang lain berada di depan panggung, beberapa diam mendengarkan kami, sedangkan yang lain sibuk memainkan alat musik atau hanya sekedar mendengarkan kami sembari mengobrol.

Waktu sudah sore hari, kegiatan belajar-mengajar sudah selesai, yang tersisa hanyalah tinggal kegiatan ekskul. Hari-hari seperti ini sudah berjalan sekitar 3 bulan, dan yah…gue cukup menikmati menjalaninya, sepulang sekolah gue langsung ekskul musik, atau kumpul sama temen-temen SMP gue, terkadang gue main game sama temen-temen sekelas gue, pokoknya memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang selagi masih kelas 1.

Sebenernya ada 1 hal lagi yang bisa bikin masa-masa “Masih-Kelas-1-SMA” gue bertambah indah, yaitu-yang sebenernya gue malas untuk mengakuinya-punya pacar. Entah kenapa, yang ada di dalam kepala para remaja hanyalah tentang lawan jenis, cari-cari perhatian, pacaran, dan cinta-cintaan. Dan karena gue juga termasuk remaja, gue pun terpaksa memikirkan hal yang sama. Tapi sayangnya, gue punya kelemahan terhadap cewek. Gue bisa berlaku normal ke cewek yang gue anggap temen aja alias gue gak ada perasaan apa-apa ke dia, tapi ketika harus berhadapan dengan orang yang gue taksir, keadaan bisa menjadi sangat buruk, gue bisa jadi super gugup bahkan menjadi sangat pemalu untuk menyapanya sekalipun. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan gue masih sendiri sampai saat ini.

Bicara tentang cinta, saat ini gue sedang menaruh cinta pada seseorang. Semua berawal dari sebulan yang lalu. Suatu Senin, ketika sedang upacara bendera, mata gue menangkap seorang cewek yang bertugas membawa bendera, dia sangat manis, bisa dibilang gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika lagu kebangsaan dinyanyikan dan pandangan semua orang tertuju pada bendera, gue masih setia menatap cewek itu, yang sedang perlahan-lahan menggiring bendera ke awan. Setelah selesai upacara bendera, gue pun medeklarasikan diri gue jatuh cinta ke cewek tadi, yang hal ini menjadi masalah karena kelemahan gue ketika menghadapi cewek. Masalah menjadi berlipat begitu gue tau kalo cewek yang gue taksir berasal dari kelas 3. Menjalin hubungan dengan cewek sekelas atau 1 angkatan aja gue sulit, apalagi kelas 3, darimana gue bisa dapet link ke dia? Duh! Payahnya gue.

Perlu beberapa hari untuk gue bisa tau namanya, cewek itu bernama Thara. Hal ini pun gue tau dari foto peserta Try Out  yang ditempel di mading kelas 3. Setelah memilah dari ratusan nama dan foto dari kelas 3.1 akhirnya gue temukan pujaan hati gue di kelas 3.5. Namun mengetahui semua hal itu pun menjadi percuma, karena selama sebulan kedepan  gue cuma bisa jadi pengagum rahasianya. Ketika waktu istirahat dan semua murid berada di kantin, mata gue selalu bisa nemuin Thara di antara kerumunan orang, namun gue cuma bisa memandangnya dari jauh. Ketika waktu pulang, pandangan gue selalu “mengantar” Thara sampai ke pintu gerbang, sampai akhirnya dia hilang ditelan tembok sekolah.

Jadi sejauh ini gue cuma tau nama dan kelasnya saja, gue belum tau banyak tentang dia. Gue gak tau di mana rumahnya, atau nomor teleponnya. Gue gak berusaha untuk cari tau, karena gue berniat untuk tau hal-hal itu langsung dari yang bersangkutan, walaupun gue juga gak tau itu mungkin terjadi apa gak. Gue juga gak berniat untuk minta bantuan orang lain, entah kenapa gue juga ngerasa malu kalau orang lain tau gue lagi suka sama seseorang, makanya gue pendam masalah ini untuk diri gue sendiri, sambil berharap akan datangnya sebuah keajaiban dimana gue dapet kesempatan untuk bisa mendekati Thara. Miris memang, tapi itulah gue.

Wawan sedang menyanyikan bait dari reff  terakhir lagu “Complicated Heart”-nya Michael Learns To Rock. Waktu sudah menunjukan jam 5 sore, kegiatan ekskul hari ini hampir berakhir, beberapa anak sudah mulai merapikan alat-alat dan membersihkan ruangan. Lagu sudah memasuki bagian Outro dan akan segera berakhir.

Ketika sedang membereskan alat-alat di atas panggung Wawan menghampiri gue, “Uy, To,” sapanya. “Buat acara ulang tahun sekolah kita bulan depan, kita bawain lagunya Nidji yang “Kau Dan Aku”, nyok? Gue udah ngomongin ke anak-anak di kelas tadi pagi, mereka udah setuju, tinggal lo doang nih, gimana bro?”, Wawan membujuk gue sambil menaik-turunkan alisnya, walaupun kesannya jadi agak aneh karena sesama cowok. “Yaudah, oke kok,” jawab gue kalem, “Nanti gue kulik.”, “Sip! Lusa kita mulai latian ye!”.

Setelah ekskul, gue selalu langsung pulang, karena biasanya jam menunjukan pukul 17.30, juga karena rumah gue cukup jauh dari sekolah, yaitu sekitar 30 menit, gue gak mau pulang ketika hari udah gelap.

Tiap malam sebelum tidur gue selalu mengambil Gitar, lalu memainkan beberapa lagu. Malam ini, entah kenapa suasananya terasa begitu sentimentil, gue memikirkan Thara. “Sedang apa ya dia? Jangan-jangan dia juga lagi mikirin gue?” ngaco lamun gue dalam hati. Lalu gue memainkan beberapa kord lagu-lagu romantis, sambil menyanyikan baitnya di dalam kepala gue. Gue kembali kepikiran sama usaha gue untuk mengenal Thara yang sama sekali belum ada kemajuan. Gue bisa memikirkan beberapa cara atau skenario untuk gue bisa kenal sama Thara, tapi untuk melakukannya bukanlah perkara mudah buat gue. Setelah memainkan beberapa lagu dan berpikir beberapa saat, lalu gue teringat akan sebuah lagu yang mungkin cocok sama keadaan gue sekarang, yaitu lagunya Mocca yang berjudul “Secret Admirer”. Genjrengan Gitar pun kembali mengalun di kamar gue, sambil membayangkan lirik lagu “Secret Admirer” dinyanyikan oleh Thara, lalu gue sebagai pemuja rahasianya yang hanya bisa mengganggu kehidupannya. Konser gue malam ini pun ditutup oleh lagu itu, lalu sang Stupid Admirer beranjak tidur.

Esok harinya, hari dimulai seperti hari-hari biasanya, gue berangkat ke sekolah jam setengah 7 pagi, lalu kembali berkutat dengan pelajaran sampai siang hari. Hari ini hari Rabu, gak ada kegiatan ekskul seni musik hari ini, karena jatah menggunakan gedung kesenian hanya hari Selasa dan Kamis. Tapi tiap ekskul di sekolah gue masing-masing memiliki satu ruangan yang biasa disebut markas oleh anggota ekskul tersebut. Ketika bukan pas hari latihan, ruangan tersebut biasa dijadikan tempat ngumpul oleh beberapa orang anggota yang sengaja datang untuk sekedar mengobrol atau mengurus kepengurusan ekskul. Selesai hari ini pun gue berniat untuk ke markas seni musik, selain karena gak ada rencana sebelumnya, gue mau ngulik lagu buat latihan besok, sekaligus bercengkrama dengan temen-temen ekskul seni musik yang belum semuanya gue kenal dan akrab.

Kelas sudah selesai setengah jam yang lalu, setelah makan siang di kantin sekolah, gue beranjak ke markas seni musik yang terletak di belakang gedung kelas dari areal sekolah gue. Ketika sampai di depan pintu markas gue perhatiin ternyata ruangan masih sepi, karena biasanya tumpukan sepatu terlihat di depan pintu, tetapi saat ini hanya ada sepasang sepatu yang gue pikir adalah senior gue yang pengurus ekskul, karena hanya mereka yang punya kunci pintu markas ini. Setelah sepatu gue menemani sepasang sepatu tadi, gue pun masuk ke dalam ruangan, ruangan benar-benar sangat sepi, tidak terlihat seorang pun. Gue masuk ke dalam dan berjalan ke pojok ruangan untuk menaruh tas gue, lalu tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gue. “Hei! Siapa ya?” gue lalu menoleh ke arah sumber suara. Di depan gue berdiri sesosok cewek tinggi berambut pendek, kulitnya putih, mukanya bulat dan berhidung mancung, dan sepasang matanya menatap gue dengan pandangan curiga. Hanya perlu waktu kurang dari sedetik buat otak gue menganalisa siapa dia, yang ternyata gue kenal, dialah Thara, cewek yang gue puja secara diam-diam selama ini, tapi ngapain dia di sini?

Penyakit gue jelas kambuh. Gue langsung gugup dan salah tingkah, gue yakin akan tergagap kalo ngomong, yang ternyata benar. “Gu…gue anggo..gota ekskul mu..mus..sssik…” jawab gue tergagap karena saking gugupnya dengan kejutan yang gue dapet disiang bolong. Mata gue masih menatap sesosok cantik di depan gue dengan setengah gak percaya, gue masih bertanya-tanya dalam hati kenapa dia bisa ada di sini. “Oooh, gue kira maling, abis gak ada suara tapi tiba-tiba ada orang!” kata Thara, tatapannya berubah lega. “Nama lo siapa”? tanya dia melanjutkan. “Ti..Tito…” jawab gue masih terbata. “Hah? Titito? Nama lo aneh,” kata Thara sambil kembali mengubah tatapannya menjadi skeptis. “Bu..bukaaan! Nama gue Tito!” jawab gue berusaha mengendalikan diri. “Ooh, abisnya lo gemeteran gitu. Kenapa deh?” Thara kembali menatap gue curiga. “Euh…gak apa-apa kok, gue..gue kaget aja tadi, ehehe,” kata gue sambil memaksakan senyum. “Hm, yaudah. Lo dari kelas berapa?” tanyanya. “Gue anak 1.10.” jawab gue yang sudah mulai bisa mengendalikan keadaan. “Oooh. Oh ya, nama gue Thara, gue anak kelas 3.5,” sambil menyodorkan tangannya. “Gue udah tau, cantiiiiik!” teriak gue dalam hati, tapi gak berani untuk benar-benar meneriakannya. Lalu gue sambar tangan Thara, dan gue pun secara resmi kenalan sama Thara. Yesss! Misi sukses secara gak sengaja!

“Oh ya, hmm, kok lo ada di sini?” tanya gue ke Thara. Saat ini kita sedang duduk di lantai, Thara duduk persis di depan gue, sebuah pemandangan yang sulit ditahan, gue hampir gak bisa ngelepasin pandangan gue dari dia, walaupun gue masih malu dan grogi ketika tatapan kita berdua saling bertemu. “Oh, lo belum tau ya?” jawab sekaligus tanya Thara, “Gue tuh sebenernya pengurus ekskul musik tau, tapi karena gue sekarang kelas 3, dan banyak banget Try Out, jadinya gue terpaksa ngurangin aktivitas gue di ekskul ini.” lanjut Thara menjelaskan semuanya. “Oh, begitu.” kata gue dalam hati yang gue masih heran kenapa gak gue katakan langsung aja. “Tahun lalu gue aktif banget,” Thara melanjutkan pembicaraan, “Hampir tiap hari gue ke sini, dari angkatan gue juga banyak yang anak musik, tapi sekarang paling cuma beberapa doang yang masih sering main ke sini.” kata Thara. “Oh..iya bener…” respon gue singkat, karena masih gugup. Thara ternyata sangat friendly, ketika sedang bicara sangat terlihat kalau dia bicara dengan penuh perasaan. Kayaknya kesempatan gue untuk bisa lebih dekat dengannya masih sangat terbuka lebar.

“Ngomong-ngomong, lo main alat musik apa?” Thara kembali bertanya. “Hm..Gitar,” jawab gue. “Serius?”, “Iya…”, “Wah, hebat dong kalo gitu!” kata Thara bersemangat. Entah kenapa gue merasa senang karena pujian barusan, padahal dia belum pernah ngeliat permainan Gitar gue yang sebenernya masih biasa-biasa aja. Yah, semuanya akan menjadi “lebih” ketika bersama orang yang kita suka. “Kalo gue cuma bisa nyanyi.” lanjut Thara. “Wah, kebetulan banget! Gue bisa ngiringin dia nyanyi!” pikir gue, sebelum kemudian ucapan Thara kembali meledak.  “Oh iya! Lo bisa main gitar kan!? Coba dong iringin gue nyanyi!” katanya sambil menggebu-gebu, seolah-olah dia membaca pikiran gue barusan. Oh Tuhan! Padahal gue gak inget mimpi apa gue semalem, tapi hari ini secara tiba-tiba menjadi hari yang indah! Bukan hanya bisa kenalan dan ngobrol sama cewek pujaan gue selama ini, tapi ternyata dia juga suka nyanyi dan barusan dia minta gue untuk iringin dia nyanyi! Hal ini ibarat mimpi yang gue impikan di dalam mimpi, kemudian menjadi kenyataan!

1 jam kemudian Thara pamit pulang karena harus mengikuti les pelajaran. Tapi 1 jam barusan adalah 1 jam terbaik dalam hidup gue selama ini. Selama 1 jam gue dan Thara memainkan banyak lagu, ternyata Thara hebat dalam menyanyi, suaranya juga sangat bagus. Dia juga memuji permainan gitar gue, dia seneng karena gue bisa mainin semua lagu yang tadi dia minta. Dan di atas semua itu, dia janji kalau besok dia akan dateng nonton gue latihan di gedung kesenian. Saat ini gue overdosis rasa bahagia, kalo gak gue tahan gue bisa aja senyum terus, tapi karena sekarang sudah banyak orang di markas seni musik, jadi terpaksa gue tahan deh.

Setengah jam kemudian gue beranjak dari markas seni musik dan bergegas pulang. Gue berjalan dengan bahagia, gue senyum-senyum sendiri ketika mengingat apa yang terjadi 1 jam yang lalu. Ketika sampai di areal parkir sekolah, gue ngeliat temen gue anak kelas sebelah yang juga temen SMP gue, namanya Cozy, dia sedang duduk di atas jok motornya dan terlihat agak murung, lalu gue hampiri dia. “Oy, Ji, kenapa lu murung amat?” tanya gue. Cozy mengangkat wajahnya lalu ngeliat gue, “Oh, elu To, iya nih, stress gue,” katanya lemas. “Lah, stress kenapa??” tanya gue cemas, walaupun gue kayaknya tau alasannya. “Iya, gue belum dapet juga cewek idaman gue…” jawab Cozy. Tebakan gue bener. “…emang lo udah investigasi sampe mana?” tanya gue. “Yah..dari angkatan kita kan udah gue coba denger semua, ternyata belum dapet juga. Terus gue coba masuk ekskul Paskibra yang banyak anak ceweknya, tapi ternyata gak ada juga. Baru tadi gue ngundurin diri dari anggota Paskib…” jelas Cozy. “Masih ada kelas 2 dan kelas 3 sih, tapi kayaknya gue mulai ngerasa kalo ‘dia’ gak ada di sekolah ini deh…” kata Cozy lesu. Gue cukup kasihan juga sama temen gue yang satu ini. Sebenarnya dia tergolong keukuran cowok ganteng, buat dia perkara mudah untuk deketin cewek, hanya saja, dia punya selera aneh dalam menilai cewek, buat dia cewek dinilai dari suaranya, ada yang bersuara cantik, imut, anggun, merdu, adem, indah, lembut dan lain-lain, begitu kata dia. Maka dari itu dia hanya mau nerima cewek yang memiliki suara yang indah menurut telinga dia. Memang cowok yang aneh. Yah..tapi biar gimanapun dia adalah sobat gue sejak SMP, gue patut menghibur dan bantu dia. “Lah, elo Ji, nyari cewek suara cakep kok di Paskibra, mereka kan kalo ngomong pasti sambil teriak, misalnya; ‘HORMAT GRAK!’ atau ‘BALIK KANAN, GRAK!’” kata gue sambil teriak menirukan petugas Paskibra. “Kalo teriak gitu, mana ada indah, ada juga gahar! Dan gue yakin kata favorit cewek Paskib pasti ‘GRAK’, bisa aja kan nanti pas jadian, tiap dia ngomong sama lo terus dia pake kata itu, misalnya; ‘Jemput aku dong, GRAK!’ atau ‘Jangan selingkuh ya sayang, GRAK!’”, “Hahahaha, bisa aja lo To! Tapi bener juga ya! Hahaha!” Cozy tertawa mendengar lelucon gue. “Jadi, sebaiknya dimana dong gue cari cewek yang punya suara indah?” tanya Cozy.

“Yah, suara indah kan biasanya identik sama nyanyi, walaupun gak selalu sih, tapi kemungkinannya kan besar.” kata gue ngasih opsi. “Ekskul musik dong? Lo anggota kan? Emang ada penyanyi cewek di sekolah kita?” tanya Cozy penasaran. “Ada dong man. Ada tuh anak kelas 3, namanya Thara, suaranya bagus banget, dia anak ekskul musik, tadi gue latihan bareng dia dan….”. Waduh, gue kebanyakan ngomong, kok gue malah ‘ngejual’ cewek yang gue taksir, ke Cozy pula, dia pasti semangat kalo ngedenger ada cewek yang bersuara bagus. Gawat! Lalu gue tatap Cozy sambil berharap dia gak denger, tapi ternyata dia denger tiap kata dan tiap huruf yang gue bilang tadi, dia tersenyum lebar, seperti mendapat secercah harapan. “Wah! Jadi ada ya?” kata Cozy menggebu-gebu, sambil kedua tangannya memegang pundak gue. “Kalo gitu gue mau gabung ah! Ekskul musik latian lagi kapan?”, “Uh..be..besok..” kata gue terbata. “Besok? Sip lah! Besok gue ikut lo latian ya! Terus kenalin gue ya ke cewek itu, oke, man?” Cozy berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gue, rupanya dia bener-bener excited. “Oke gak, man?” tanya Cozy lagi. “I…iya..oke..” jawab gue masih terbata.

“Duh, apa yang gue pikirin sih? Kok gue iya-iya aja? Cozy lebih ganteng dan lebih luwes ketika ngedeketin cewek, kalo gue berebut cewek sama dia pasti gue kalah!” batin gue dilema, gue jadi nyesel karena udah keceplosan tadi. Tiba-tiba di dalam kepala gue terbersit solusi dari keadaan ini, yaitu gue harus bilang ke Cozy, kalo cewek yang gue maksud tadi itu adalah cewek yang gue incar, kalo gue bilang gitu dia pasti ngerti. “Wah, ternyata Tuhan masih melindungi kesempatan gue untuk bisa sama Thara!” kata gue dalam hati, batin gue serasa diberi tangga untuk didaki kembali.  “Eh, Ji…sebenernya…” belum sempet gue menyesaikan kalimat gue, Cozy langsung memotong, “Makasih berat nih To! Lo emang sobat gue yang terbaik deh! Waktu itu lo ngenalin gue ke Sherly, walaupun akhirnya gak sesuai sih. Tapi sekarang lo mau ngenalin gue ke cewek lain lagi, gila, seneng banget gue punya temen kayak lo, hahaha,”.

Aduh, mampus gue. Cozy keliatan seneng banget, udah gitu dia bilang gue sobat terbaik dia, masa gue tega ngecewain dia setelah dia ngomong gitu. Batin gue serasa terjun bebas dan tertimpa tangga yang tadi. Gue gak sanggup berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian Cozy beranjak pulang memacu sepeda motornya, meninggalkan gue yang sekarang terduduk murung di atas jok motor, memikirkan kebodohan gue dan rasa bahagia yang ternyata hanya terasa singkat. Gue ngerasa kayak baru aja bermain “Estafet Kebahagiaan”, gue baru aja memberikan ‘Kebahagiaan’ ke Cozy, sekarang dia sedang berlari kencang menuju garis finish. Ataukah masih ada pelari berikutnya? Huh, yang jelas ini semua karena kebodohan gue!

Titito, kau bodoh sekali!

Bersambung