Selasa, 14 Februari 2012

“Pangeran Kecilku”

Hari itu merupakan hari yang cerah, Matahari memandikan bumi dengan sinarnya yang terang, sambil ditemani lautan awan putih yang menyelimuti langit, hari yang sempurna untuk menuntut ilmu. Saat ini keadaan di SDN Simfoni IX sangat sunyi, waktu belajar sedang berlangsung. Yang bisa terdengar hanya suara guru yang sedang menerangkan pelajaran, sambil diiringi suara goresan kapur di papan tulis. Di kelas 2.B, bu Nita sedang mengajarkan perkalian, semua muridnya diam memperhatikan dia menulis angka-angka di papan tulis, kecuali seorang pria kecil yang duduk di pojok kelas. Dia sedang sibuk menulis di secarik kertas sambil sesekali melirik cewek yang duduk berjarak 3 meja dari tempat dia duduk.
Nama cowok kecil itu adalah Tommy. Belakangan ini dia merasa gak bisa fokus belajar, karena ada suatu hal yang sedang bereaksi di dalam dirinya, ya, dia sedang jatuh cinta. Nama malaikat kecil pujaan hatinya bernama Derisha, seorang cewek dengan rambut keriting panjang. Semuanya berawal dari kejadian beberapa hari yang lalu, yaitu pada saat ulangan pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah ulangan selesai, buku ulangan murid-murid pun dikumpulkan di meja guru, lalu kemudian dibagikan lagi secara acak untuk dikoreksi bersama-sama. Tommy mendapat buku tulis Derisha, dan ketika dia melihat tulisan Derisha, dia terpesona. Ini merupakan pertama kalinya dia melihat tulisan cewek, tulisan tangan Derisha sangat bagus dan sangat rapih, sangat berbeda dengan tulisan tangan Tommy atau tulisan tangan cowok teman semejanya yang berantakan. Kemudian dia berusaha mencari tahu siapa cewek yang bernama Derisha, karena kelasnya terdiri dari 50 orang anak dan dia belum hafal semua muka dan namanya.
Ketika Tommy berhasil menemukan sesosok cewek yang bernama Derisha, kebetulan saat itu Cupid sedang membawa anaknya jalan-jalan-atau terbang-terbang-untuk latihan menembak panah, lalu ketika melihat Tommy yang sedang terpesona menatap Derisha, dia pun menyuruh anaknya untuk mencoba kemampuannya. Lalu dengan bimbingan sang ayah, si Cupid Junior pun melepaskan anak panah dan tepat mengenai hati Tommy. Dan kemudian begitu saja, Tommy pun jatuh cinta pada Derisha.
Saat ini Tommy sedang membaca secarik kertas yang tadi ditulisnya. Tulisan yang bengkok-bengkok itu jika dibaca akan berbunyi; “Hai Derisha nanti pas istirahat temuin aku dihalaman belakang kelas ya aku mau kasih tau pentiiiing Tommy”. Setelah puas dibacanya Tommy memberikan kertas itu ke teman yang duduk di meja sebelah dari mejanya untuk kemudian diteruskan ke Derisha. Bu Nita sedang mengajarkan perkalian 9 x 9 di papan tulis saat kertasnya Tommy akhirnya sampai di tangan Derisha. Dibukanya lipatan kertas tersebut lalu dibacanya, kemudian dia menoleh ke arah Tommy, sementara Tommy balas melihatnya dengan tersenyum. Tiba-tiba sekelas dikagetkan dengan suara teriakan bu Nita, “Tommy! Kamu bukannya perhatiin ibu ya! Malah senyum-senyum sendiri!”, Tommy pun kaget, bu Nita dan seisi kelas sedang memperhatikannya. Lalu hal yang lebih buruk pun terjadi, “Coba! 9 x 9 hasilnya berapa Tommy?” tanya bu Nita sambil berjalan ke arah meja Tommy. Sementara Tommy menjadi panik karena tidak tahu jawabannya, “Se..sembilan dika..kali sembilan..se…sembilan sembilan bu?”. Lalu tawa meledak di kelas 2.B, sekelas menertawakan Tommy dan dia juga mendapat hukuman dari bu Nita berupa jeweran di kedua telinga.
Kemudian bel istirahat berbunyi nyaring, Tommy masih menggosok-gosok kedua telinganya yang memerah karena dijewer bu Nita tadi. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke halaman belakang kelas 2.B. Derisha yang melihat Tommy berjalan keluar kelas pun berdiri lalu mengikutinya karena dia penasaran dengan hal penting yang ingin Tommy sampaikan.
Di belakang bangunan kelas 2, yaitu sepanjang deretan kelas 2.A, 2.B dan 2.C, terdapat sebuah halaman yang lebarnya sekitar 4 meter sampai dengan pagar sekolah. Di halaman tersebut banyak terdapat berbagai macam tanaman yang ditanam dan dirawat oleh murid-murid kelas 2. Halaman tersebut biasa dijadikan tempat bermain ketika waktu istirahat, ada yang main kejar-kejaran, atau hanya duduk-duduk memakan bekal dengan teman-teman sambil melihat bunga-bunga yang tumbuh di belasan pot yang berjejer rapih. Namun tepat di belakang kelas 2.B, terdapat sebuah pohon Ceri besar yang tumbuh lebat, sehingga di bawah pohon itu menjadi rindang tak terkena sinar Matahari. Di batang pohon tersebut banyak terdapat coret-coretan dari anak-anak yang iseng, ada yang mengukir menggunakan batu tetapi kebanyakan mengunakan tip-x, banyak hal-hal yang tertulis di sana, seperti “Power Ranger”, “RONNY SI SPIDERMAN”, atau yang mulai menyerempet ke cinta-cintaan seperti, “Yudha love Ani”, “Nobita  Shizuka”, atau “Pasqual sayang Yuni”, dan masih banyak hal-hal aneh lainnya hasil pikiran anak SD.  Ketika pohon Ceri itu sedang berbuah matang, anak-anak akan mengerumuni pohon itu dan berebut memetik buah Ceri dengan sebatang tongkat pemetik yang ada di sana. Namun saat ini pohon Ceri tersebut belum berbuah matang, hanya buah-buah kecil berwarna hijau yang menggantung di sela-sela dedaunan, sehingga tidak menarik minat anak-anak untuk berburu buah Ceri.
Saat ini di bawah pohon Ceri yang rindang sedang berdiri dua anak muda yang akan mengukir sejarah di lembar kehidupan mereka. Derisha menghampiri Tommy ketika dia sedang berusaha mencari buah Ceri yang sudah memerah, lalu menyapanya. “Hai Tom,” sapa Derisha dengan tipikal suara imut cewek yang masih kecil. “Hai Derisha,” balas Tommy sambil berbalik badan menghadap Derisha. “Emang kamu mau kasih tau apa?” tanya Derisha langsung. “Aku suka sama kamu, Sha.”, tembak Tommy tanpa beban dan keraguan. Derisha tersenyum mendengarnya, “Suka sama aku? Waah, makasih ya!”. Derisha terlihat senang mendengarnya. “Terus, hal pentingnya yang kamu mau kasih tau apa?” tanya Derisha lagi. “Ya itu tadi,” balas Tommy langsung, “Aku mau kamu jadi pacar aku, kamu mau gak?”. “Pacar itu apa?” tanya Derisha polos, wajahnya terlihat bingung. “Aku mau kita pacaran,” kata Tommy lagi, tetapi hanya membuat Derisha semakin bingung, “Pacaran itu ngapain?”.
“Kamu gak tau pacaran?” tanya Tommy yang agak kaget karena Derisha gak tau tentang pacaran. “Nggak. Emang apa?” tanya Derisha, wajahnya terlihat penasaran karena ini adalah pertama kali bagi dia denger kata ‘pacaran’. “Pacaran itu, cowok sama cewek berduaan, pegangan tangan.” kata Tommy menjelaskan. “Terus?” tanya Derisha lagi yang masih belum mengerti. “Hmm, pokoknya mereka cuma boleh berduaan! Gak boleh sama orang lain.” kata Tommy asal, padahal dia cuma sok tahu. “Iih, gak seru dong, gak bisa main rame-rame! Gak mau ah.” kata Derisha. “Ih, bukaan! Kalo cuma main aja mah gak apa-apa!” kata Tommy lagi masih berusaha membujuk. “Jadi apa dong? Kamu gak jelas ngomongnya!”.
“Hmm..apa ya..pacaran itu..hmm…”, kata Tommy bingung, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Hihihih, kamu lucu! Masa kamu yang ngajak aku tapi kamu gak tau. Aneh kamu.” kata Derisha sambil tertawa geli, sementara Tommy merasa malu, pipinya memerah, ini pertama kalinya dia merasa malu karena diledekin cewek, padahal biasanya dia dan teman-temannya yang suka meledek dan iseng kepada cewek. “Uuuh, po..pokoknya kalo pacaran itu berduaan terus deh!” kata Tommy berusaha mengelak karena malu.
“Emang kamu tau pacaran darimana?” tanya Derisha yang sekarang merasa kalau Tommy itu cowok yang aneh. “Dari kakakku.” jawab Tommy. “Kakak kamu gimana kalo pacaran?”  tanya Derisha lagi. “Hmm, dia kalo pulang sekolah selalu dianter pacarnya, terus pacarnya juga suka main ke rumah aku, terus kalo malem minggu kakak aku selalu jalan-jalan keluar sama pacarnya.”. Tommy berusaha menjelaskan sebanyak yang dia tau dari hubungan kakaknya. “Oooh. Emang kakak kamu kelas berapa” tanya Derisha yang menjadi semakin penasaran. “Kelas 3 SMA”, “Ih, pantesan kakak kamu mah udah gede jadi boleh kayak gitu, kita kan masih anak-anak. Aku pasti dimarahin mama kalo malam-malam pergi keluar. Aku gak mau ah pacaran.”.
“Tapi..tapi aku suka sama kamu Sha, aku cinta sama kamu,” Tommy masih berusaha membujuk. “Cinta? Itu apa lagi?” tanya Derisha polos. Tommy menjadi bingung lagi untuk menjelaskan, karena dia sendiri sebenarnya gak tau apa itu cinta. Keadaan menjadi sunyi sesaat, beberapa anak sedang bermain kejar-kejaran melewati mereka. “Cinta itu..kayak…kayak perasaan aku ke kamu sekarang,” kata Tommy berusaha menjelaskan. “Emang rasanya gimana?” tanya Derisha karena gak bisa membayangkannya. “Rasanya..rasanya spesial, yaa..ya kayak gini!”, “Gimana?” tanya Derisha masih bingung. “Aduh!” Tommy pun menjadi ikut-ikutan bingung. “Hmm, mungkin rasanya sama kayak perasaan kamu ke aku sekarang. Gimana rasanya?” tanya Tommy. Sementara Derisha diam sebentar, berusaha merasakan sesuatu. “Hmm, gak ada rasa apa-apa, biasa aja tuh.”. Sebenarnya yang baru saja terjadi ke Tommy adalah “Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan”, tetapi karena dia masih anak-anak, buat dia hal itu masih terlalu rumit untuk disadari oleh akal pikirnya. Derisha pun demikian, dia tidak menyadari kalau dia sedang menolak cowok yang suka padanya, karena sebenarnya dia tidak mengerti situasi ini, baginya ini hanyalah obrolan biasa antar teman sekelas.
“Emangnya kamu gak pernah denger cerita yang ada cinta-cintanya?” tanya Tommy yang masih berusaha untuk membuat Derisha mengerti perasaannya. “Mmm, kayaknya pernah sih. Dulu mama aku pernah cerita tentang seorang putri kerajaan yang diculik, terus dia diselamatin sama pangeran yang datang bawa pedang dan naik kuda putih. Si putri selamat dan katanya pangeran itu cinta sejatinya, abis itu mereka hidup bahagia selamanya.” kata Derisha menjelaskan sambil mengingat-ingat cerita mamanya. “Nah itu dia!” kata Tommy bersemangat, akhirnya dia mendapatkan cara untuk mejelaskan perasaannya. “Kalo gitu anggap aja aku pangeran yang dateng nyelametin kamu, aku cinta sejati kamu!”. “Ih, kayaknya nggak deh. Kamu gak pernah nyelametin aku, kamu gak punya kuda putih, kamu juga bawa pedang. Aku gak mau.” tolak Derisha. Lalu layaknya orang yang belum mengenal kata menyerah-karena memang begitu adanya-Tommy kembali berusaha membujuk Derisha, dia pun berkata, “Jadi, kalo aku nyelametin kamu, terus aku ke sekolah naik kuda putih, dan bawa pedang, kamu mau pacaran sama aku, Sha?”.
“Mau!” jawab Derisha, Tommy pun senang mendengarnya. “Tapi emang kamu punya pedang sama kuda putih?” tanya Derisha. “Gampang, nanti aku minta sama mama aku. Besok aku bawa ke sekolah deh. Tapi kamu janji ya kamu mau jadi pacar aku besok?” tanya Tommy untuk memastikan. “Iya aku janji, kamu juga janji ya!” jawab Derisha, yang membuat Tommy senang sepenuh hati mendengarnya. Karena pikiran anak-anak, mereka berdua sama-sama percaya kalau besok Tommy akan bisa datang ke sekolah dengan menaiki kuda putih dan membawa pedang selayaknya pangeran di cerita dongeng. “Yaudah, aku ke kelas ya, aku mau makan bekal makan siangku”, kata Derisha. “Iya aku juga, bareng yuk!” lalu mereka berdua beranjak kembali ke kelas.
Sesampainya di rumah, Tommy langsung menghampiri ibunya lalu meminta dibelikan kuda putih dan pedang sungguhan, yang tentu saja ditolak ibunya. Tommy menangis dan merengek selama beberapa jam, lalu ketika dia sudah capek membujuk ibunya yang tidak ada hasil, dia pun mengurung dirinya di kamar. Dia merasa sedih karena merasa sudah berjanji pada Derisha, dia juga merasa kalau keadaannya begini, dia tidak akan bisa mendapatkan cewek yang disukainya. Dia masih berusaha untuk tetap menangis dengan harapan ibunya akan mendengarnya lalu memutuskan untuk menuruti permintaannya.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang masuk ke kamar Tommy. Tommy berharap kalau itu ibunya, namun ternyata itu kakaknya. Seperti yang Tommy bilang, kakaknya adalah murid kelas 3 SMA, dia bernama Thara. Tommy sangat dekat dengan kakaknya, selain karena mereka hanya 2 bersaudara. “Kamu kenapa toh dek?” tanya kakaknya cemas sambil duduk di pinggir kasur Tommy. “Anu..kak…”, Tommy pun menjelaskan semua yang terjadi di sekolah tadi, tetapi kakaknya malah tertawa mendengar ceritanya. “Hahahahaha! Serius kamu bilang begitu!? Hahahaha, adekku ini emang lucu lucu lucuu!” kata Thara sambil mencubit kedua pipi adiknya. “Ja..jadi gimana dong kak? Aku kan udah janji sama dia…” tanya Tommy sambil memelas. “Hihihi, ya gak mungkin lah mama mau nurutin kamu!”, “Emang kenapa kak?”, “Nih ya, kuda putih itu jarang ada, harganya juga mahal, kasian mama. Selain itu kalo kamu ke sekolah naik putih yang ada orang-orang malah ngetawain kamu! Hahaha” jelas Thara sambil kembali mencubit pipi adiknya. “Selain itu juga, pedang sungguhan tuh bahaya, kamu kan masih belum boleh pake alat-alat yang tajam, inget kan?”, “Iya sih kak..tapi…jadi aku harus bilang apa dong besok?” tanya Tommy. Thara menatap wajah adiknya sambil tetap menahan tawa karena kepolosan anak-anak. “Yaudah nih, kakak kasih tau, kamu dengerin yah! Besok kamu bilang gini aja…bla..bla..bla”.
Keesokan harinya di sekolah, Tommy kembali menggunakan cara yang sama dengan kemarin untuk mengajak Derisha ketemuan, tetapi dia sudah lebih hati-hati untuk menghindari jeweran dari bu Nita. Lalu ketika waktu istirahat, kedua anak muda ini pun kembali bertemu di bawah pohon yang sama. “Mana kuda putih sama pedang kamu? Kok gak keliatan?” tanya Derisha, sementara Tommy merasa gak nyaman, karena ini merupakan yang pertama kalinya dia merasa kalau dia akan mengecewakan orang lain. “Maaf Sha, kata mama aku, kuda putih gak boleh dibawa ke sekolah, terus pedang juga gak boleh, kan bahaya buat anak kecil, terus…”, belum sempat Tommy menyelesaikan kalimatnya, Derisha memotongnya. “Yaaah, payah. Aku gak suka sama orang yang ingkar janji!” kata Derisha dengan nada kecewa. “Yah, tapi..denger aku dulu dong Sha!” kata Tommy memohon, karena Derisha kelihatan ingin beranjak meninggalkannya. “Apa?”, “Tanpa kuda dan pedang pun aku tetep bisa kok nyelamatin kamu, aku mau jadi pangeran pelindung kamu.” kata Tommy, mengulang kalimat yang diajarkan kakaknya kemarin. Tetapi kemudian langsung dipotong lagi oleh Derisha. “Gak mungkin lah. Kalo kamu punya pedang, kalo ada orang jahat yang ganggu aku, langsung bisa kamu kalahin pake pedang itu. Terus kalo ada orang jahat yang ngejar kita, kita bisa lari naik kuda kamu. Kalo gak punya 2 itu mana bisa ngelindungin aku? Aku gak mau ah.” kata Derisha berdasarkan logika cewek kecilnya. “Gak juga, aku pasti bisa kok walaupun tanpa itu,” kata Tommy kembali mencoba membujuk. “Coba buktiin?” tantang Derisha. “Hmm, yah..liat aja nanti, sekarang kan lagi gak ada masalah?”, “Iya. Liat aja nanti, gak bakalan bisa. Yaudah, aku ke kelas ya.”. Lalu Derisha kembali ke kelas, meninggalkan Tommy yang merasa kecewa karena Derisha tidak mau mengerti juga. Tetapi dalam hatinya Tommy tetap bertekad untuk membuktikan, kalau dia adalah pangeran tanpa kuda putih dan pedang yang bisa melindungi Derisha.
Setelah istirahat, kegiatan belajar kembali dilanjutkan. Bu Nita sedang mengajarkan pelajaran IPA di depan kelas, anak-anak yang lain sibuk memperhatikan, terkecuali Tommy yang masih sibuk memikirkan usaha pembuktiannya ke Derisha. Di sela-sela suara bu Nita yang menggaung disekujur kelas, tiba-tiba anak cewek yang duduk di sebelah Derisha teriak histeris. “Bu gurluuuuuu! Derlisha ngompooool!” seketika semua tatapan mata di kelas mengarah ke Derisha, lalu kelas meledak dengan suara tawa ketika memang terlihat genangan air di bawah kursi Derisha. Derisha yang tak mampu menahan rasa malu pun akhirnya menangis dengan menutupi wajahnya dengan buku tulisnya.
Melihat hal itu, tiba-tiba di dalam kepala Tommy terbersit sebuah ide ksatria. Selagi seisi kelas masih tertawa Tommy beranjak dari kursinya lalu berlari menuju ke depan kelas. Pandangan seisi kelas sekarang sedang menatap Tommy, lalu tanpa diduga-duga, Tommy pun ikut mengompol dan membasahi celananya tepat di depan mata semua teman-teman sekelasnya. Tak ayal seisi kelas kembali tertawa, tetapi kali ini menertawakan Tommy. Derisha kemudian membuka wajahnya yang tadi ia sembunyikan, kemudian menyadari kalau saat ini teman-temannya tidak sedang menertawakan dia, melainkan menertawakan Tommy yang memang sengaja menarik perhatian kelas darinya.
Lalu secara kebetulan-lagi-Cupid Junior sedang mengunjungi kelas 2.B karena penasaran dengan keadaan Tommy. Namun saat ini pun ia sedang tertawa terbahak-bahak melihat ulah Tommy. Sebelum kemudian dia tersadar dengan tugas barunya. Diambilnya sebatang anak panah dan mengangkat busurnya. Lalu dilepasnya sebatang anak panah cinta tersebut, yang meluncur secara kasat mata diantara gema suara tertawa yang mengiringi suasana di kelas 2.B. Kemudian anak panah tersebut tertancap sempurna di hati Derisha, yang masih menatap Tommy. Derisha pun seolah merasa ada sesuatu yang terjadi di hatinya, yang kemudian dia membuat tersadar akan apa yang telah dilakukan Tommy untuk dirinya. Dia pun akhirnya bisa merasakannya, rasa cinta.
Tommy masih berdiri di depan kelas, sebenarnya dia juga menahan rasa malu dan rasa ingin menangis yang hampir tak tertahankan. Satu-satunya yang bisa bikin dia bertahan adalah karena di kelas tersebut ada Derisha, menurutnya seorang pangeran tidak akan menangis di depan puteri pujaannya. Bu Nita hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang baru saja terjadi di kelasnya, sebelum kemudian dia menggiring Tommy dan Derisha ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Tommy dan Derisha dibawa ke ruang guru untuk kemudian dipinjamkan celana dan rok ganti. Saat ini mereka sedang duduk di kursi di luar ruang guru, menunggu bu Nita sebelum kemudian dia akan membawa mereka kembali ke kelas. Derisha masih menangis tersedu-sedu sejak dari kamar mandi tadi, dia masih syok dan merasa malu akan yang baru saja terjadi. Sementara Tommy, dia bingung harus berbuat apa di depan cewek yang sedang menangis. Ini pertama kali baginya mendengar suara tangisan cewek, yang menurutnya dia gak kuat mendengarnya, karena dia jadi merasa kasihan dan merasa bisa ikut merasakan kesedihan hanya dari mendengar suara tangisannya. Hal ini juga yang membuat Tommy bertekad untuk tidak ingin membuat cewek menangis di sepanjang hidupnya nanti.
Derisha masih menangis tersedu-sedu, tangannya yang kecil mengusap kelopak matanya yang basah karena air mata. Tommy masih mengamatinya, kemudian memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. “Kok masih nangis sih? Kan aku udah nyelamatin kamu tadi?” kata Tommy berusaha menghibur Derisha. Derisha kemudian membuka matanya dan menatap Tommy. “Udah aku buktiin kan, kalo aku bisa ngelindungin kamu?” kata Tommy lagi. Derisha masih menatap Tommy, kemudian dia mengangguk sambil terus berusaha mengendalikan tangisnya. “Berarti aku bisa kan jadi pangeran kamu?” tanya Tommy lagi. Derisha kembali mengangguk, dan akhirnya bisa menghentikan tangisnya. “Oke! Nah, berarti kamu jadi puteri yang harus aku jaga dan lindungin dengan hidup aku!” kata Tommy sambil tersenyum. Derisha pun membalas senyumnya lalu berkata, “Iya, makasih ya, pangeranku!”.

P.S: Selamat merayakan hari Valentine! Cinta itu indah ‘kan? J

Minggu, 12 Februari 2012

Kisah Cinta Si Laki-laki Pemalu Bag. 1

“1..2..3..4..”

JREEEEEEENGG~

Alunan musik terdengar dari gedung kesenian SMA Smasuka, intro dari lagu “Diam Tanpa Kata” dari band D’Masiv menggema di setiap sudut ruangan. Saat ini, anak-anak dari ekskul seni musik sedang berlatih di sana. Sebuah panggung yang cukup besar sedang dijadikan sebagai lahan unjuk kemampuan oleh 5 orang cowok, yaitu Budi yang bermain Drum, Ipan yang membetot Bass, Eko yang membesut Gitar, Wawan yang berada di ujung panggung menyanyi dengan lantang, lalu gue, seorang cowok bernama Tito yang juga memegang instrumen Gitar. Kami berlima adalah salah satu dari sekian grup band di SMA Smasuka, yang terbentuk dari ekskul seni musik yang beranggotakan sekitar 30 murid dari semua kelas. Gue berasal dari kelas 1.10, sementara keempat temen gue tadi sebenernya adalah senior gue, mereka dari kelas 2.6, hanya Eko yang berasal dari kelas 2.7. Sementara kami berlima tampil, anggota ekskul yang lain berada di depan panggung, beberapa diam mendengarkan kami, sedangkan yang lain sibuk memainkan alat musik atau hanya sekedar mendengarkan kami sembari mengobrol.

Waktu sudah sore hari, kegiatan belajar-mengajar sudah selesai, yang tersisa hanyalah tinggal kegiatan ekskul. Hari-hari seperti ini sudah berjalan sekitar 3 bulan, dan yah…gue cukup menikmati menjalaninya, sepulang sekolah gue langsung ekskul musik, atau kumpul sama temen-temen SMP gue, terkadang gue main game sama temen-temen sekelas gue, pokoknya memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang selagi masih kelas 1.

Sebenernya ada 1 hal lagi yang bisa bikin masa-masa “Masih-Kelas-1-SMA” gue bertambah indah, yaitu-yang sebenernya gue malas untuk mengakuinya-punya pacar. Entah kenapa, yang ada di dalam kepala para remaja hanyalah tentang lawan jenis, cari-cari perhatian, pacaran, dan cinta-cintaan. Dan karena gue juga termasuk remaja, gue pun terpaksa memikirkan hal yang sama. Tapi sayangnya, gue punya kelemahan terhadap cewek. Gue bisa berlaku normal ke cewek yang gue anggap temen aja alias gue gak ada perasaan apa-apa ke dia, tapi ketika harus berhadapan dengan orang yang gue taksir, keadaan bisa menjadi sangat buruk, gue bisa jadi super gugup bahkan menjadi sangat pemalu untuk menyapanya sekalipun. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan gue masih sendiri sampai saat ini.

Bicara tentang cinta, saat ini gue sedang menaruh cinta pada seseorang. Semua berawal dari sebulan yang lalu. Suatu Senin, ketika sedang upacara bendera, mata gue menangkap seorang cewek yang bertugas membawa bendera, dia sangat manis, bisa dibilang gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika lagu kebangsaan dinyanyikan dan pandangan semua orang tertuju pada bendera, gue masih setia menatap cewek itu, yang sedang perlahan-lahan menggiring bendera ke awan. Setelah selesai upacara bendera, gue pun medeklarasikan diri gue jatuh cinta ke cewek tadi, yang hal ini menjadi masalah karena kelemahan gue ketika menghadapi cewek. Masalah menjadi berlipat begitu gue tau kalo cewek yang gue taksir berasal dari kelas 3. Menjalin hubungan dengan cewek sekelas atau 1 angkatan aja gue sulit, apalagi kelas 3, darimana gue bisa dapet link ke dia? Duh! Payahnya gue.

Perlu beberapa hari untuk gue bisa tau namanya, cewek itu bernama Thara. Hal ini pun gue tau dari foto peserta Try Out  yang ditempel di mading kelas 3. Setelah memilah dari ratusan nama dan foto dari kelas 3.1 akhirnya gue temukan pujaan hati gue di kelas 3.5. Namun mengetahui semua hal itu pun menjadi percuma, karena selama sebulan kedepan  gue cuma bisa jadi pengagum rahasianya. Ketika waktu istirahat dan semua murid berada di kantin, mata gue selalu bisa nemuin Thara di antara kerumunan orang, namun gue cuma bisa memandangnya dari jauh. Ketika waktu pulang, pandangan gue selalu “mengantar” Thara sampai ke pintu gerbang, sampai akhirnya dia hilang ditelan tembok sekolah.

Jadi sejauh ini gue cuma tau nama dan kelasnya saja, gue belum tau banyak tentang dia. Gue gak tau di mana rumahnya, atau nomor teleponnya. Gue gak berusaha untuk cari tau, karena gue berniat untuk tau hal-hal itu langsung dari yang bersangkutan, walaupun gue juga gak tau itu mungkin terjadi apa gak. Gue juga gak berniat untuk minta bantuan orang lain, entah kenapa gue juga ngerasa malu kalau orang lain tau gue lagi suka sama seseorang, makanya gue pendam masalah ini untuk diri gue sendiri, sambil berharap akan datangnya sebuah keajaiban dimana gue dapet kesempatan untuk bisa mendekati Thara. Miris memang, tapi itulah gue.

Wawan sedang menyanyikan bait dari reff  terakhir lagu “Complicated Heart”-nya Michael Learns To Rock. Waktu sudah menunjukan jam 5 sore, kegiatan ekskul hari ini hampir berakhir, beberapa anak sudah mulai merapikan alat-alat dan membersihkan ruangan. Lagu sudah memasuki bagian Outro dan akan segera berakhir.

Ketika sedang membereskan alat-alat di atas panggung Wawan menghampiri gue, “Uy, To,” sapanya. “Buat acara ulang tahun sekolah kita bulan depan, kita bawain lagunya Nidji yang “Kau Dan Aku”, nyok? Gue udah ngomongin ke anak-anak di kelas tadi pagi, mereka udah setuju, tinggal lo doang nih, gimana bro?”, Wawan membujuk gue sambil menaik-turunkan alisnya, walaupun kesannya jadi agak aneh karena sesama cowok. “Yaudah, oke kok,” jawab gue kalem, “Nanti gue kulik.”, “Sip! Lusa kita mulai latian ye!”.

Setelah ekskul, gue selalu langsung pulang, karena biasanya jam menunjukan pukul 17.30, juga karena rumah gue cukup jauh dari sekolah, yaitu sekitar 30 menit, gue gak mau pulang ketika hari udah gelap.

Tiap malam sebelum tidur gue selalu mengambil Gitar, lalu memainkan beberapa lagu. Malam ini, entah kenapa suasananya terasa begitu sentimentil, gue memikirkan Thara. “Sedang apa ya dia? Jangan-jangan dia juga lagi mikirin gue?” ngaco lamun gue dalam hati. Lalu gue memainkan beberapa kord lagu-lagu romantis, sambil menyanyikan baitnya di dalam kepala gue. Gue kembali kepikiran sama usaha gue untuk mengenal Thara yang sama sekali belum ada kemajuan. Gue bisa memikirkan beberapa cara atau skenario untuk gue bisa kenal sama Thara, tapi untuk melakukannya bukanlah perkara mudah buat gue. Setelah memainkan beberapa lagu dan berpikir beberapa saat, lalu gue teringat akan sebuah lagu yang mungkin cocok sama keadaan gue sekarang, yaitu lagunya Mocca yang berjudul “Secret Admirer”. Genjrengan Gitar pun kembali mengalun di kamar gue, sambil membayangkan lirik lagu “Secret Admirer” dinyanyikan oleh Thara, lalu gue sebagai pemuja rahasianya yang hanya bisa mengganggu kehidupannya. Konser gue malam ini pun ditutup oleh lagu itu, lalu sang Stupid Admirer beranjak tidur.

Esok harinya, hari dimulai seperti hari-hari biasanya, gue berangkat ke sekolah jam setengah 7 pagi, lalu kembali berkutat dengan pelajaran sampai siang hari. Hari ini hari Rabu, gak ada kegiatan ekskul seni musik hari ini, karena jatah menggunakan gedung kesenian hanya hari Selasa dan Kamis. Tapi tiap ekskul di sekolah gue masing-masing memiliki satu ruangan yang biasa disebut markas oleh anggota ekskul tersebut. Ketika bukan pas hari latihan, ruangan tersebut biasa dijadikan tempat ngumpul oleh beberapa orang anggota yang sengaja datang untuk sekedar mengobrol atau mengurus kepengurusan ekskul. Selesai hari ini pun gue berniat untuk ke markas seni musik, selain karena gak ada rencana sebelumnya, gue mau ngulik lagu buat latihan besok, sekaligus bercengkrama dengan temen-temen ekskul seni musik yang belum semuanya gue kenal dan akrab.

Kelas sudah selesai setengah jam yang lalu, setelah makan siang di kantin sekolah, gue beranjak ke markas seni musik yang terletak di belakang gedung kelas dari areal sekolah gue. Ketika sampai di depan pintu markas gue perhatiin ternyata ruangan masih sepi, karena biasanya tumpukan sepatu terlihat di depan pintu, tetapi saat ini hanya ada sepasang sepatu yang gue pikir adalah senior gue yang pengurus ekskul, karena hanya mereka yang punya kunci pintu markas ini. Setelah sepatu gue menemani sepasang sepatu tadi, gue pun masuk ke dalam ruangan, ruangan benar-benar sangat sepi, tidak terlihat seorang pun. Gue masuk ke dalam dan berjalan ke pojok ruangan untuk menaruh tas gue, lalu tiba-tiba ada suara yang mengagetkan gue. “Hei! Siapa ya?” gue lalu menoleh ke arah sumber suara. Di depan gue berdiri sesosok cewek tinggi berambut pendek, kulitnya putih, mukanya bulat dan berhidung mancung, dan sepasang matanya menatap gue dengan pandangan curiga. Hanya perlu waktu kurang dari sedetik buat otak gue menganalisa siapa dia, yang ternyata gue kenal, dialah Thara, cewek yang gue puja secara diam-diam selama ini, tapi ngapain dia di sini?

Penyakit gue jelas kambuh. Gue langsung gugup dan salah tingkah, gue yakin akan tergagap kalo ngomong, yang ternyata benar. “Gu…gue anggo..gota ekskul mu..mus..sssik…” jawab gue tergagap karena saking gugupnya dengan kejutan yang gue dapet disiang bolong. Mata gue masih menatap sesosok cantik di depan gue dengan setengah gak percaya, gue masih bertanya-tanya dalam hati kenapa dia bisa ada di sini. “Oooh, gue kira maling, abis gak ada suara tapi tiba-tiba ada orang!” kata Thara, tatapannya berubah lega. “Nama lo siapa”? tanya dia melanjutkan. “Ti..Tito…” jawab gue masih terbata. “Hah? Titito? Nama lo aneh,” kata Thara sambil kembali mengubah tatapannya menjadi skeptis. “Bu..bukaaan! Nama gue Tito!” jawab gue berusaha mengendalikan diri. “Ooh, abisnya lo gemeteran gitu. Kenapa deh?” Thara kembali menatap gue curiga. “Euh…gak apa-apa kok, gue..gue kaget aja tadi, ehehe,” kata gue sambil memaksakan senyum. “Hm, yaudah. Lo dari kelas berapa?” tanyanya. “Gue anak 1.10.” jawab gue yang sudah mulai bisa mengendalikan keadaan. “Oooh. Oh ya, nama gue Thara, gue anak kelas 3.5,” sambil menyodorkan tangannya. “Gue udah tau, cantiiiiik!” teriak gue dalam hati, tapi gak berani untuk benar-benar meneriakannya. Lalu gue sambar tangan Thara, dan gue pun secara resmi kenalan sama Thara. Yesss! Misi sukses secara gak sengaja!

“Oh ya, hmm, kok lo ada di sini?” tanya gue ke Thara. Saat ini kita sedang duduk di lantai, Thara duduk persis di depan gue, sebuah pemandangan yang sulit ditahan, gue hampir gak bisa ngelepasin pandangan gue dari dia, walaupun gue masih malu dan grogi ketika tatapan kita berdua saling bertemu. “Oh, lo belum tau ya?” jawab sekaligus tanya Thara, “Gue tuh sebenernya pengurus ekskul musik tau, tapi karena gue sekarang kelas 3, dan banyak banget Try Out, jadinya gue terpaksa ngurangin aktivitas gue di ekskul ini.” lanjut Thara menjelaskan semuanya. “Oh, begitu.” kata gue dalam hati yang gue masih heran kenapa gak gue katakan langsung aja. “Tahun lalu gue aktif banget,” Thara melanjutkan pembicaraan, “Hampir tiap hari gue ke sini, dari angkatan gue juga banyak yang anak musik, tapi sekarang paling cuma beberapa doang yang masih sering main ke sini.” kata Thara. “Oh..iya bener…” respon gue singkat, karena masih gugup. Thara ternyata sangat friendly, ketika sedang bicara sangat terlihat kalau dia bicara dengan penuh perasaan. Kayaknya kesempatan gue untuk bisa lebih dekat dengannya masih sangat terbuka lebar.

“Ngomong-ngomong, lo main alat musik apa?” Thara kembali bertanya. “Hm..Gitar,” jawab gue. “Serius?”, “Iya…”, “Wah, hebat dong kalo gitu!” kata Thara bersemangat. Entah kenapa gue merasa senang karena pujian barusan, padahal dia belum pernah ngeliat permainan Gitar gue yang sebenernya masih biasa-biasa aja. Yah, semuanya akan menjadi “lebih” ketika bersama orang yang kita suka. “Kalo gue cuma bisa nyanyi.” lanjut Thara. “Wah, kebetulan banget! Gue bisa ngiringin dia nyanyi!” pikir gue, sebelum kemudian ucapan Thara kembali meledak.  “Oh iya! Lo bisa main gitar kan!? Coba dong iringin gue nyanyi!” katanya sambil menggebu-gebu, seolah-olah dia membaca pikiran gue barusan. Oh Tuhan! Padahal gue gak inget mimpi apa gue semalem, tapi hari ini secara tiba-tiba menjadi hari yang indah! Bukan hanya bisa kenalan dan ngobrol sama cewek pujaan gue selama ini, tapi ternyata dia juga suka nyanyi dan barusan dia minta gue untuk iringin dia nyanyi! Hal ini ibarat mimpi yang gue impikan di dalam mimpi, kemudian menjadi kenyataan!

1 jam kemudian Thara pamit pulang karena harus mengikuti les pelajaran. Tapi 1 jam barusan adalah 1 jam terbaik dalam hidup gue selama ini. Selama 1 jam gue dan Thara memainkan banyak lagu, ternyata Thara hebat dalam menyanyi, suaranya juga sangat bagus. Dia juga memuji permainan gitar gue, dia seneng karena gue bisa mainin semua lagu yang tadi dia minta. Dan di atas semua itu, dia janji kalau besok dia akan dateng nonton gue latihan di gedung kesenian. Saat ini gue overdosis rasa bahagia, kalo gak gue tahan gue bisa aja senyum terus, tapi karena sekarang sudah banyak orang di markas seni musik, jadi terpaksa gue tahan deh.

Setengah jam kemudian gue beranjak dari markas seni musik dan bergegas pulang. Gue berjalan dengan bahagia, gue senyum-senyum sendiri ketika mengingat apa yang terjadi 1 jam yang lalu. Ketika sampai di areal parkir sekolah, gue ngeliat temen gue anak kelas sebelah yang juga temen SMP gue, namanya Cozy, dia sedang duduk di atas jok motornya dan terlihat agak murung, lalu gue hampiri dia. “Oy, Ji, kenapa lu murung amat?” tanya gue. Cozy mengangkat wajahnya lalu ngeliat gue, “Oh, elu To, iya nih, stress gue,” katanya lemas. “Lah, stress kenapa??” tanya gue cemas, walaupun gue kayaknya tau alasannya. “Iya, gue belum dapet juga cewek idaman gue…” jawab Cozy. Tebakan gue bener. “…emang lo udah investigasi sampe mana?” tanya gue. “Yah..dari angkatan kita kan udah gue coba denger semua, ternyata belum dapet juga. Terus gue coba masuk ekskul Paskibra yang banyak anak ceweknya, tapi ternyata gak ada juga. Baru tadi gue ngundurin diri dari anggota Paskib…” jelas Cozy. “Masih ada kelas 2 dan kelas 3 sih, tapi kayaknya gue mulai ngerasa kalo ‘dia’ gak ada di sekolah ini deh…” kata Cozy lesu. Gue cukup kasihan juga sama temen gue yang satu ini. Sebenarnya dia tergolong keukuran cowok ganteng, buat dia perkara mudah untuk deketin cewek, hanya saja, dia punya selera aneh dalam menilai cewek, buat dia cewek dinilai dari suaranya, ada yang bersuara cantik, imut, anggun, merdu, adem, indah, lembut dan lain-lain, begitu kata dia. Maka dari itu dia hanya mau nerima cewek yang memiliki suara yang indah menurut telinga dia. Memang cowok yang aneh. Yah..tapi biar gimanapun dia adalah sobat gue sejak SMP, gue patut menghibur dan bantu dia. “Lah, elo Ji, nyari cewek suara cakep kok di Paskibra, mereka kan kalo ngomong pasti sambil teriak, misalnya; ‘HORMAT GRAK!’ atau ‘BALIK KANAN, GRAK!’” kata gue sambil teriak menirukan petugas Paskibra. “Kalo teriak gitu, mana ada indah, ada juga gahar! Dan gue yakin kata favorit cewek Paskib pasti ‘GRAK’, bisa aja kan nanti pas jadian, tiap dia ngomong sama lo terus dia pake kata itu, misalnya; ‘Jemput aku dong, GRAK!’ atau ‘Jangan selingkuh ya sayang, GRAK!’”, “Hahahaha, bisa aja lo To! Tapi bener juga ya! Hahaha!” Cozy tertawa mendengar lelucon gue. “Jadi, sebaiknya dimana dong gue cari cewek yang punya suara indah?” tanya Cozy.

“Yah, suara indah kan biasanya identik sama nyanyi, walaupun gak selalu sih, tapi kemungkinannya kan besar.” kata gue ngasih opsi. “Ekskul musik dong? Lo anggota kan? Emang ada penyanyi cewek di sekolah kita?” tanya Cozy penasaran. “Ada dong man. Ada tuh anak kelas 3, namanya Thara, suaranya bagus banget, dia anak ekskul musik, tadi gue latihan bareng dia dan….”. Waduh, gue kebanyakan ngomong, kok gue malah ‘ngejual’ cewek yang gue taksir, ke Cozy pula, dia pasti semangat kalo ngedenger ada cewek yang bersuara bagus. Gawat! Lalu gue tatap Cozy sambil berharap dia gak denger, tapi ternyata dia denger tiap kata dan tiap huruf yang gue bilang tadi, dia tersenyum lebar, seperti mendapat secercah harapan. “Wah! Jadi ada ya?” kata Cozy menggebu-gebu, sambil kedua tangannya memegang pundak gue. “Kalo gitu gue mau gabung ah! Ekskul musik latian lagi kapan?”, “Uh..be..besok..” kata gue terbata. “Besok? Sip lah! Besok gue ikut lo latian ya! Terus kenalin gue ya ke cewek itu, oke, man?” Cozy berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gue, rupanya dia bener-bener excited. “Oke gak, man?” tanya Cozy lagi. “I…iya..oke..” jawab gue masih terbata.

“Duh, apa yang gue pikirin sih? Kok gue iya-iya aja? Cozy lebih ganteng dan lebih luwes ketika ngedeketin cewek, kalo gue berebut cewek sama dia pasti gue kalah!” batin gue dilema, gue jadi nyesel karena udah keceplosan tadi. Tiba-tiba di dalam kepala gue terbersit solusi dari keadaan ini, yaitu gue harus bilang ke Cozy, kalo cewek yang gue maksud tadi itu adalah cewek yang gue incar, kalo gue bilang gitu dia pasti ngerti. “Wah, ternyata Tuhan masih melindungi kesempatan gue untuk bisa sama Thara!” kata gue dalam hati, batin gue serasa diberi tangga untuk didaki kembali.  “Eh, Ji…sebenernya…” belum sempet gue menyesaikan kalimat gue, Cozy langsung memotong, “Makasih berat nih To! Lo emang sobat gue yang terbaik deh! Waktu itu lo ngenalin gue ke Sherly, walaupun akhirnya gak sesuai sih. Tapi sekarang lo mau ngenalin gue ke cewek lain lagi, gila, seneng banget gue punya temen kayak lo, hahaha,”.

Aduh, mampus gue. Cozy keliatan seneng banget, udah gitu dia bilang gue sobat terbaik dia, masa gue tega ngecewain dia setelah dia ngomong gitu. Batin gue serasa terjun bebas dan tertimpa tangga yang tadi. Gue gak sanggup berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian Cozy beranjak pulang memacu sepeda motornya, meninggalkan gue yang sekarang terduduk murung di atas jok motor, memikirkan kebodohan gue dan rasa bahagia yang ternyata hanya terasa singkat. Gue ngerasa kayak baru aja bermain “Estafet Kebahagiaan”, gue baru aja memberikan ‘Kebahagiaan’ ke Cozy, sekarang dia sedang berlari kencang menuju garis finish. Ataukah masih ada pelari berikutnya? Huh, yang jelas ini semua karena kebodohan gue!

Titito, kau bodoh sekali!

Bersambung

Minggu, 15 Januari 2012

Kencan Tuli Bag. 3 - Selesai


KRIIIIIIIING....! Bunyi bel pulang berbunyi nyaring, seketika itu pula para murid beranjak dari tempat duduk masing-masing dan berjalan ke pintu keluar. Satu hari lagi telah berlalu di kehidupan SMA gue, satu hari yang secara mengejutkan terasa mendebarkan. Gue mengambil tas lalu berjalan cepat menuju pintu kelas. Tidak seperti biasanya, gue jadi orang pertama yang meninggalkan kelas. Gue langsung jalan ke parkiran, setelah motor siap, gue pun melaju meninggalkan sekolah. Gue akuin, gue emang belum siap buat menghadapi Sherly, terlebih karena bayangan kencan kemarin yang gagal masih segar dalam ingatan, saat ini gue pengen hindarin dia dulu untuk sementara, sebenarnya sampai saat yang tidak ditentukan sih.

Tujuan gue saat ini bukan pulang ke rumah, tapi ke tempat nongkrong waktu gue SMP, letaknya beberapa puluh meter dari gedung SMP gue, adalah sebuah warung dengan pos ronda di seberangnya. Di pos ronda itulah dulu hampir setiap hari gue sama temen-temen gue menghabiskan waktu sepulang sekolah. Sampai saat ini pun beberapa temen gue masih suka ke sini sepulang sekolah, sedangkan yang lain hanya hari-hari tertentu main ke sini, termasuk gue, yang sebulan terakhir sangat jarang main ke sini. Saat ini pun, gue ke sini, karena butuh tempat pelarian, sekaligus menenangkan pikiran gue yang agak tertekan belakangan ini.

Ketika gue sampe, di atas pos ronda sudah ada 2 orang temen gue, yang bernama Dul dan Joni. Mereka sedang bermain kartu, gue sapa mereka lalu gue ikut dalam permainan. Beberapa menit kemudian, seorang temen gue lagi datang, seorang cewek bernama Maria, dia cewek yang tomboy, gak heran dia lebih seneng ngumpul bareng cowok. Lalu dia pun bergabung dalam permainan, obrolan kita berempat masih seputar tentang SMA masing-masing, karena kita semua masuk ke SMA yang berbeda-beda. Obrolan kita berempat masih berlanjut sampai Maria dengan setengah teriak berkata, “Eh, liat tuh! Bukannya itu Tito ya?! Dia bonceng cewek lhooo!”, seketika pandangan gue, Dul, sama Joni mengarah ke seberang jalan namun masih agak jauh, di sana memang terlihat Tito, di atas motornya, dan dia memang sedang membonceng cewek, kenapa hal ini menjadi heboh adalah, karena Tito adalah cowok yang agak pemalu untuk urusan cewek. Maka dari itu saat ini terdengar kegaduhan dari pos ronda, Maria, Dul dan Joni bersiul-siul beriringan, gue masih menatap cewek yang dibonceng Tito, yang memang cukup cantik-eh tunggu, kok kayaknya gue kenal…oh, tidak, itu Sherly!

Mampus gue! Gue lupa Tito juga kadang suka main ke sini, dan dia juga tau rumah gue. Pasti Sherly minta tolong dia anter ke rumah gue terus begitu tau gue belum pulang jadi dia bawa ke sini, aduh Tito, lo sungguh jenius banget! Karena syok akan pemandangan yang gue liat, gue diem mematung, sementara ketiga temen gue masih bersiul ria. Kemudian gue liat Tito turun dari motor lalu dia berjalan menuju pos ronda, sementara Sherly tetap duduk di motor Tito. Begitu Tito sampai di depan pos ronda dia berkata ke gue, “Ji, gue yakin lo sama Sherly punya masalah yang perlu diselesain, mending lo omongin sekarang.”, Tito berkata dengan raut muka serius, karena itu pula ketiga temen gue yang tadinya berisik langsung diam. “Iya..oke men..” kata gue lemes, lalu beranjak dari duduk gue. May God saves my ears!

Gue pun berjalan ke arah Sherly, dalam hati gue merasa panik dan tertekan, namun semua keraguan itu gue kalahin dengan pikiran kalo ini memang harus diselesaikan, dan sebagai cowok pun gue harus bertanggung jawab atas perlakuan gue ke dia. Maka dari itu gue harus siap, harus terpaksa siap. Sherly menatap gue yang berjalan semakin dekat dengan tatapan marah. Begitu gue sampai di depan dia, gue lalu menyapanya, “Ha..hallo..Sherly,” suara gue bergetar takut, namun setelah gue menyapanya Sherly malah terisak, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Oh great, now she’s crying.” kata gue dalam hati. Menangis adalah senjata para wanita untuk meluluhkan hati pria, dan sayangnya, gue adalah tipe pria yang lemah akan tangisan wanita, seandainya para wanita itu menyatakan cintanya ke gue sambil menangis, pasti gue gak kuat dan akan menerimanya. But luckily, Sherly kemudian mengangkat wajahnya, lalu kembali menatap gue, matanya agak memerah karena menahan tangis barusan.

“Lo tega…” kata Sherly sambil terisak. Sementara gue, mengambil langkah mini untuk mundur beberapa centimeter, untuk meminimalisir rasa merinding yang gue rasain, pengen rasanya menutup telinga, tapi kayaknya gue masih cukup kuat bertahan. “Gue tau kok kenapa lo begini…” Sherly kembali berkata, dia menatap gue, “Gue tau suara gue mungkin sedikit aneh untuk suara cewek,”, “Mungkin? Sedikit? Ayolah, lo sedang menyiksa gue sekarang!” pikir gue. “Tapi belum pernah gue diperlakuin begini sama cowok!” kata Sherly setengah teriak, yang menyebabkan bulu roma gue kembali berdiri tegang, gue berusaha sebisa mungkin mempertahankan kesadaran. “Sher, gue juga punya alesan…” kata gue berusaha membela diri, tetapi langsung dipotongnya. “DIEM! Lo tau gak sih penderitaan gue?” kata Sherly sambil terisak. “Gara-gara punya suara begini, gue jadi susah dapet cowok, gue juga mau punya pacar! Selama ini gue selalu terbuka ke tiap cowok, walaupun gue tau pada akhirnya mereka bakal ilfill sama suara gue...”. Gue masih diem mematung, sambil merasakan sensasi dari mendengar suaranya. Kasihan sekali Sherly, gue berpikir mau memberikan nomor telepon Babeh, tapi mengencani satpam sekolah kayaknya hanya akan bikin dia tambah tertekan. Jadi gue urungkan niat gue.

Sherly diam sebentar mengambil nafas, lalu berkata, “Tapi cuma lo yang sebegini tega sama gue!”. Dia menatap gue, lalu kembali menutup wajahnya. “Sher…makanya dengerin dulu…gue juga punya alesan kok!”. Sherly masih terisak menutupi wajahnya. Sementara gue, sebisa mungkin ngejelasin semuanya, dari gimana obsesi gue sama suara cewek, kencan buta, dan tentu saja efek dari mendengar suara dia buat gue. “…makanya itu Sher, gue gak kuat denger suara lo, karena itu juga tingkah gue jadi aneh begini, suara lo itu gimana ya..dahsyat pokoknya-eh, maksudnya, tadi lo bilang sendiri kan kalo selama ini cuma gue cowok yang sampe begini ngehadapin lo? Ya emang begitu adanya, kalo cowok lain mungkin lebih tahan dibanding gue, jadi reaksi mereka pun gak berlebihan!” jelas gue. Sherly kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap gue. “Serius?” katanya. “Serius Sherrr!” kata gue sambil merinding. “Lo itu cantik kok, gue yakin pasti bakal ada cowok yang bisa bener-bener cinta sama lo apa adanya, tapi orang itu bukan gue.” kata gue berusaha merayunya. Sherly masih menatap gue, keadaan menjadi sunyi beberapa detik, lalu senyum pun mengembang di wajahnya, kemudian sambil menyeka pipinya yang basah, dia bertanya, “Hmph, oke deh, jadi?”, “Ya, jadi gue minta maaf deh karena udah nyakitin hati lo, maafin gue ya?” gue berkata sambil mengiba, “Tapi kalo lo masih ada rasa kesel lo boleh tampar gue.” tambah gue bercanda. “Serius? tanya Sherly. “Serius apa?”, “Serius boleh nampar lo?”, “I..ii..iya, eh, emangnya lo masih kesel sama gue?”, Sherly tertawa sinis, “Hmm, gak juga sih! Tapi dari dulu gue selalu pengen nampar tiap cowok yang udah bikin gue kecewa. Jadi, boleh kan?” kata Sherly sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gue. Sementara perasaan merinding masih melanda tubuh gue sejak tadi, gue pengen percakapan ini segera selesai, namun masih ada satu hal lagi, gara-gara ucapan bodoh tadi, gue harus ngerasain tamparan Sherly. Seperti apa ya rasanya? Yah, karena dia cewek, mungkin gak bakal terlalu sakit. “Hm, iya boleh..silakan…” kata gue sambil menegapkan badan.

CELEPAAKKKK!

Telapak tangan Sherly mendarat keras di pipi kanan gue. “Ugh, dasar cewek bersuara aneh, bahkan suara tamparannya pun aneh!” pikir gue dalem hati. Gue jatuh terduduk di tanah, tak diduga ternyata tamparan Sherly keras juga, sebuah pelajaran baru buat gue, jangan pernah menganggap remeh kemarahan cewek, ternyata tamparannya menyakitkan, aduh pipiku!

Belum sempet gue bangun, gue denger suara langkah kaki di belakang gue, lalu gue denger suara cowok, “Ji? Ini temen lo ya? Eh, kenapa lo ditampar dia?”. Gue nengok, ternyata yang berbicara barusan adalah temen SMP gue yang bernama Marlon, kayaknya dia datang ke sini pas selagi gue ngomong sama Sherly. “Gapapa Lon, emang gue yang minta. Iya, ini temen SMA gue…” kata gue sambil mengelus pipi gue yang memerah sehabis ditampar. “Wah, cantik juga!” kata Marlon. “Cantik sih cantik, tunggu sampe dia bersuara!” kata gue dalam hati. Sherly hanya diam memperhatikan gue sama Marlon dari dekat. Lalu Marlon menghampiri Sherly sampai dia berdiri di sebelahnya, lalu berkata, “Hai! Hmm, boleh kenalan kan?”, Sherly menjawab dengan mengangguk. “Nama gue Marlon” kata Marlon sambil menyodorkan tangannya. “Hm, gue Sherly” balas Sherly sambil sedikit memelankan suaranya, lalu menjabat tangan Marlon. “Eh, sorry, siapa?” kata Marlon, nampaknya dia tidak mendengar Sherly karena suaranya yang pelan, lalu dia menyodorkan telinganya. “Oh, tidak!” teriak gue dalam hati. Marlon akan mendapat pukulan telak, tepat di depan telinganya! “NAMA GUE SHERLY” jawab Sherly dengan suara yang dikeraskan, dia jawab tepat di depan telinga Marlon. Sementara gue, gue menutup kedua kuping gue dengan tangan, dan gue pun memejamkan mata. Gue gak tau apa yang akan terjadi dengan Marlon. May God saves his ears!

“Oh Sherly, nama yang bagus! Salam kenal ya! Ngomong-ngomong, suara kamu indah ya!” kata Marlon. Mendengar hal itu gue langsung membuka mata, lalu teriak sekencang-kencangnya dalam hati, “HAH!? SERIUS LO!?”, di wajah gue tergambar raut ekspresi kaget, Sherly pun juga sama, gue yakin dalam hatinya dia juga teriak, “HAH!? SERIUS LO!?” tetapi dengan suara dia yang aneh tentunya. Keadaan menjadi sunyi selama beberapa detik, gue sama Sherly masih dalam ekspresi kaget, sementara Marlon diam bingung. Hingga akhirnya Sherly menjawab, “Ehm, ya makasih…”.

“Jadi lo temen satu sekolah si Cozy?” kata Marlon melanjutkan pembicaraan. Sebelum gue merinding lagi, gue langsung bangun dari duduk gue dan berjalan menuju ke pos tempat Tito dan yang lain berada. Selagi melangkah gue berpikir tentang kata-kata Marlon tadi, apa dia bilang begitu untuk jaga perasaan Sherly? Atau dia memanfaatkan kesempatan tadi untuk bisa merayunya? Gue nengok ke belakang, mereka berdua sedang terlibat dalam percakapan seru. Sherly tersenyum, mungkin ini pertama kalinya ada cowok seusianya yang mau terlibat percakapan selama ini dengannya. Marlon pun begitu, tidak terlihat kepura-puraan dalam ekspresinya, jangan-jangan ada yang salah dengan pendengarannya?

Begitu sampai di pos ronda, gue langsung menghampiri Tito yang sedang bermain kartu dengan Maria, Dul dan Joni. “To, lo tau kan si Sherly itu, suara dia?”, “Tau, kenapa emang?” tanya Tito. “Tuh lo liat si Marlon,” kata gue sambil menunjuk, “Kok bisa-bisanya dia tahan ngobrol sama Sherly?” tanya gue bingung. “Wah, ternyata sukses!” kata Maria. “Hah? Sukses apanya?” tanya gue tambah bingung. “Lo sih gak pernah main ke sini sebulan terakhir.” kata si Dul, “Iyee,” si Joni menambahkan. Gue terlihat makin bingung sebelum Tito akhirnya menjelaskan, “Begini Ji, si Marlon itu, sejak SMP emang udah punya masalah sama pendengarannya, ternyata makin ke sini makin parah, jadi sekitar 3 minggu yang lalu dia operasi tuh telinganya, gak tau deh diapain, yang jelas, pendengarannya emang berbeda dari kita-kita, apa yang kita denger, belum tentu kedenger sama di kuping dia.”, “Iya, terus..” Maria menambahkan, “Tadi si Tito cerita masalah lo berdua ke kita, terus kebetulan si Marlon dateng, jadi kita suruh kenalan aja sama temen lo itu, ternyata bisa klop tuh!” pungkas Maria sambil menunjuk ke arah Marlon dan Sherly yang masih asik bercakap-cakap. “Oalah, jadi begitu toh!” kata gue bersyukur sambil menepuk jidat. Lalu gue pun ikut bergabung ke permainan kartu.

Yah, setiap orang memang sudah ditakdirkan akan memiliki seseorang sebagai sosok yang paling mengerti dirinya. Gue lega karena masalah gue sama Sherly sudah selesai, juga lega karena dia akhirnya bisa nemu mungkin satu-satunya cowok yang ‘pas’ buat dia, yaitu Marlon. Eh, tapi tunggu, gue kan tokoh utama cerita ini, kok malah temen gue yang berhasil dapet cewek!? Yah, itu berarti pencarian gue belum berakhir, gue masih akan mengulik melodi yang tepat buat hati gue. Cinta itu buta, seperti banyak orang bilang, tapi Cinta juga tuli, jika kata-kata dari mulut gak cukup, maka hati yang akan berbicara dan hati yang akan mendengar. Tapi yang jelas gue gak mau ngelakuin Kencan Tuli lagi, satu Sherly sudah cukup!

Minggu, 08 Januari 2012

Kencan Tuli Bag. 2

"Hai, Cozy! Gak lama kan nunggu gue? Eh, salam kenal yaaa!" Sherly tersenyum sambil menyodorkan tangannya. Senyumnya sangat manis, sangat tidak diragukan lagi. Tapi ada satu hal yang..euh, yang membuat senyumnya terasa hambar. Gue berdiri sambil dirundung rasa syok, agaknya gue merinding. "Cozy? Lo kenapa?" Sherly terlihat bingung. Gue sadar dan langsung jawab, "Eh, ga apa-apa kok," gue sambar tangannya, setelah berjabat tangan kita berdua pun duduk.

Setelah duduk, gue masih merasa merinding, badan gue agak sedikit gemetar. Ini merupakan yang kedua kalinya gue mendengar sesuatu yang menggetarkan jiwa dan mengaburkan kesadaran, waktu itu gue ngedenger suara tawa banci ketika gue lagi berhenti di lampu merah, suara tawa nge-bass cowok dipaksain biar mirip suara cewek, hasilnya? Bayangin sendiri.

Sekarang telinga gue ngerasain yang namanya Déjà vu. Ya, suaranya Sherly sangat diluar harapan gue, suaranya..sangat aneh untuk ukuran suara cewek pada umumnya, suaranya..tidak seperti suara cewek namun juga tidak seperti suara cowok. Ahh, sulit jelasinnya! Yang jelas gue merinding dengernya, penampilan sempurna Sherly nampaknya tidak membantu.

Gue liat Sherly di seberang meja, dia nampak bingung dengan tingkah laku gue. "Oh, God, what should i do?" Waktu gue denger suara banci di lampu merah, efeknya gue langsung tancap gas dan menerobos lampu merah. Dan sepertinya hal itu akan terulang, kayaknya gue gak akan kuat denger suara dia lagi ketika dia ngomong nanti, kayaknya gue bakal menerobos lampu merah dengan meninggalkan dia di sini. Sungguh tidak gentle, gue akan mengecewakan dia malam ini, bahkan bisa membuatnya marah. Maafkan gue Sherly, tapi saat ini telinga di atas akal sehat.

Sherly masih terlihat bingung, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi jadi agak ragu karena ngeliat tingkah laku gue. Keadaan menjadi agak rancu selama beberapa saat, kita berdua jadi sama-sama salah tingkah, beberapa kali kulihat Sherly baru mau mengucapkan sesuatu namun lalu mengurungkan niatnya. Gue melempar pandangan gue ke sekeliling sambil sesekali mengintip ke arah Sherly. Suara obrolan pengunjung lain dan dentang sendok dan piring mereka sedikit bisa bikin gue tenang, namun akhirnya, ‘itu’ pun terdengar lagi. “Cozy? Eh, lo kenapa sih?” tanya Sherly cemas, yang justru membuat hal semakin buruk. Mendengar suaranya bikin gue tambah syok, gue makin salah tingkah, keringat dingin mengucur dari kening gue hingga membasahi leher. “Cozy, lo lagi gak enak badan ya?” tanya Sherly lagi.

“Sekali lagi gue denger suara dia kayaknya gue bakal teriak” panik gue dalam hati, yang kemudian terjadi sesaat kemudian. “Cozy, kalo lo….”, “STOP!” kata gue setengah teriak sambil mengacungkan telapak tangan gue ke arah Sherly. Dia kaget dan bingung, tapi malah kembali bersuara. “Lo ken….”, “AAAAAAAAAAHHH!!!” tanpa gue sadari, gue teriak histeris. Lalu tanpa aba-aba apapun, gue langsung beranjak dari kursi gue dan langsung lari ke arah pintu keluar kafe. Gue bisa ngerasain semua pasang mata yang ada di kafe malam itu ngeliatin gue dengan tatapan heran, terutama Sherly yang menatap gue dengan tatapan heran plus kaget. Namun apa daya, saat ini rasanya otak gue pindah ke kuping yang bikin gue mikir untuk segera pergi menyelamatkan diri.

Gue masih tetap berlari setelah berhasil keluar dari kafe, gue lari tanpa tujuan, yang penting gue udah cukup jauh untuk bisa bikin gue merasa aman. Satu hal lagi tentang kencan buta adalah, selain sama-sama tidak tahu rupa pasangan kencan kita kelak, adalah sekaligus tidak tahu jenis kendaraan yang mereka pakai. Sherly gak tau kalo gue ke kafe naik motor, bahkan dia gak tau yang mana motor gue. Jadi fokus gue sekarang adalah menunggu, lalu beberapa saat kemudian kembali ke kafe sambil mengendap-ngendap mengintip ke arah parkiran kafe.

Gue duduk di trotoar sambil memikirkan yang baru saja terjadi. “Oh, Sherly! Maafkan gue, seandainya lo gak berbunyi seperti itu, mungkin lo adalah yang sempurna buat gue!” sesal gue dalam hati. Lalu lamunan gue dikagetkan oleh bunyi dering handphone gue, yang benar ternyata adalah Sherly yang menelpon, namun karena syok akan mendengar suaranya lagi kalo gue angkat, jadi langsung gue reject dan gue matiin handphone gue. “Oh God, what a girl whom I just met!”.

Sekitar setengah jam kemudian, gue memutuskan untuk kembali ke kafe. Lalu saat keadaan parkiran sepi, gue langsung berjalan cepat untuk menjemput motor gue. Beberapa saat kemudian gue udah memacu motor gue dengan kecepatan sedang, langsung menuju ke rumah! Begitu sampai di rumah, gue langsung ke kamar lalu mencoba untuk tidur, padahal hari belum terlalu larut. Namun hal yang terjadi hari ini adalah pengalaman yang menggetarkan jiwa, rasanya energi di otak gue udah terkuras abis buat mencerna apa yang udah gue denger. Gue harap begitu gue bangun nanti gue udah lupa semua yang terjadi hari ini. Tapi malam itu gue malah bermimpi buruk, gue mimpi Sherly adalah seorang penyanyi, dan dengan suaranya, dia mengadakan konser selama 3 jam penuh, dan gue adalah satu-satunya penonton yang hadir!

Hari Minggu pagi sekali, gue udah bangun. Gue merasa seger banget, kayaknya gue udah lupa sama kejadian semalem. Gue langsung beranjak dari tempat tidur, lalu mengambil handphone yang masih tertidur. Begitu gue nyalain, gue kaget karena ada 5 pesan yang masuk secara bersamaan, dan secara bersamaan dengan itu pula ingatan gue akan semalem kembali jelas. “Oh, tidak..Sherly…” gumam gue. Lalu gue baca sms-nya satu-persatu dengan perasaan gundah karena telah mengecewakan seorang wanita. “Cozy! Lo tega banget sih ninggalin gue! Balik lagi dooong, kenapa sihh? L”, lalu pesan berikutnya berbunyi, “Sumpah lo tega banget sama gue! Tau gak apa yang paling tega dari lo?! Gue harus bayar Wedang Jahe yang udah lo pesen, huh! L”, Oh God, gue lupa kalo gue udah sempet mesen minuman sebelum dia datang. Lalu salah satu pesan lainnya berbunyi, “Pokoknya gue mau minta penjelasan! Bales sms gue! Kalo gak pas hari Senin gue samperin ke kelas lo! L”.

“…hari Senin gue samperin ke kelas lo!” adalah kalimat terburuk yang gue baca hari ini, padahal hari masih jam 5 pagi, dan masih menyisakan 19 jam. Tapi bayangan akan mendengar suara Sherly keesokan harinya cukup bikin gue terpukul di hari yang masih belia ini. Alhasil, gue menjalani hari Minggu yang cerah dengan perasaan gundah gulana, dengan pikiran gue terus melayang ke apa yang akan terjadi esok hari. Lalu kenapa gak gue jelasin aja semuanya lewat sms? Gue pikir, gue udah ngelewatin batas dari seorang cowok dengan ninggalin pasangan kencannya di saat kencan pertama pula, sungguh tidak gentle, dan gue gak mau ketidak-gentle-an gue berlanjut, maka dari itu gue putusin untuk bicara langsung dengannya esok hari. Dengan catatan saat itu gue udah siap untuk denger suaranya lagi, walaupun gue gak bisa jamin akan hal ini.

Keesokan harinya, kehidupan SMA yang biasanya gue rasa membosankan, berubah drastis menjadi menegangkan. Gue ngerasa kayak nyawa gue sedang terancam, ibarat dalam film psikopat, gue adalah tokoh utama yang diincar untuk dibunuh, dan Sherly adalah psikopat-nya, dia akan membunuh gue dengan menyanyikan lagu Nina Bobo tepat di depan kuping gue, dan kalo dia berhasil, gue akan tidur untuk selamanya!

Tanpa gue sadari, gue jadi sering melamun hari ini, semuanya tentang Sherly, dan beberapa berubah jadi lamunan dengan skenario aneh. Pelajaran kedua sudah hampir berakhir dan setelah ini adalah waktu istirahat. Gue jadi ngerasa was-was, gue takut Sherly akan langsung ke kelas gue begitu bunyi bel istirahat berbunyi-oke, kayaknya gue emang belum dan gak bakal siap buat denger suaranya lagi, bahkan rasa ke-gentle-an gue pun ikut bersembunyi dari rasa takut itu. Jadi gue putusin buat kabur, gue akan ijin ke toilet 1 menit sebelum waktu istirahat, setelah itu gue akan sembunyi sampai waktu istirahat abis. Brilian.

“Tumben lu istirahat main ke sini, Ji?” tanya Babeh, satpam sekolah. “Iye Beh, lagi mau irit duit, makanya gak ke kantin.” jawab gue. Sebenarnya nama satpam sekolah gue bukan Babeh, namun panggilan Babeh nampaknya sudah menjadi panggilan universal untuk tiap satpam sekolah, dan semua anak memang memanggilnya dengan panggilan begitu. Bahkan satpam sekolah gue waktu SMP pun dipanggil Babeh, ajaib memang. Namun Babeh yang ada di SMA gue sekarang adalah seorang yang sebenernya belum terlalu tua, sekitar awal 30-an, gak terlalu cocok dipanggil Babeh menurut gue, mungkin lebih cocok dipanggil Mas, selain karena dia orang Jawa, juga karena ‘katanya’ dia masih single…ehm, anyway! Jadi saat ini gue lagi ‘ngumpet’ di pos satpam sekolah gue, hal yang sebenernya lebih biasa gue lakuin setelah pulang sekolah, untuk sembunyi dari beberapa temen cewek gue yang agresif dengan mau ngajak gue pulang bareng atau bahkan ngajak jalan. Oleh karena itu juga, gue sama Babeh jadi cukup akrab.

“Beh,” panggil gue. “Nape, Ji?” jawab Babeh dengan logat Betawi yang dia dapet karena lama tinggal di Jakarta, “Lo kenal cewek anak 1.10 gak, namanya Sherly?” tanya gue. “Ooh, neng Sherly,” gue liat raut muka Babeh berubah, lalu dia menaruh puntung rokoknya yang masih menyala lalu berkata, “Iye gue kenal, cakep orangnye, tapi sayang…”, “Sayang kenapa Beh?” potong gue. “Yah, sayang…” kata Babeh, “Cakep-cakep tapi suaranya begitu, Babeh jadi inget temen Babeh di kampung yang kerjaannya jadi pengamen bencong di lampu merah.” Aha! Tuh, lo denger gak? Berarti bukan kuping gue doang yang ngerasa, bahkan sampe Babeh juga. Uh, malangnya Sherly! “Tapi kalo dia naksir sama Babeh mah,” Babeh melanjutkan pembicaraan. “Babeh mau-mau aja, hahaha”, “Lah, emang gak jadi masalah denger suaranya yang begitu?” tanya gue bingung. “Nih tong, gue ajarin ye, dalem cinta tuh ye, ada yang namanya ‘mau menerima apa adanya’, kadangkala, rasa cinta yang kite rase bisa ngalahin kekurangan yang ada di dalem pasangan kite, jadi jangan selalu nilai orang dari kelebihannya aje!” kata Babeh berwibawa. “Ah, elu Beh, sok puitis!” kata gue. Walaupun gue berkata begitu, dalam hati sebenernya gue agak tersinggung, tapi sekaligus sadar dan setuju. Mungkin suatu saat akan ada seorang pria yang sangat jatuh cinta sama Sherly, rasa cintanya sangat tebal dan akan berwujud earphone yang akan menyaring suara Sherly hingga menjadi terdengar indah. Akankah pria itu adalah gue? Hmm, maybe, but it’s still hard to imagine.

Beberapa menit kemudian bel masuk istirahat berbunyi, lalu setelah berterima kasih sama Babeh akan petuah bijaknya, gue pun pamit balik ke kelas. Begitu ngelewatin pintu kelas, salah seorang temen gue yang duduk di barisan depan berkata, “Eh, Ji, tadi ada anak kelas sebelah nyariin lo, cewek, tadi dia sempet nunggu beberapa menit di depan kelas, tapi karena waktu istirahat abis jadi dia balik ke kelasnya.”. Duh, apa yang harus gue lakuin?

Bersambung

Minggu, 01 Januari 2012

Kencan Tuli Bag. 1


Suatu hari, di suatu SMA di Jakarta.

KRIIIIIIIING....! Bunyi bel pulang berbunyi nyaring, seketika itu pula para murid beranjak dari tempat duduk masing-masing dan berjalan ke pintu keluar. Satu hari lagi telah berlalu di kehidupan SMA gue, satu hari yang sayangnya tidak berkesan. Gue mengambil tas lalu berjalan gontai menuju pintu kelas. "Aahhh, what a boring day!", pikir gue dalam hati. "Gue pikir kehidupan SMA bakal menyenangkan, ternyata gak lebih ngebosenin dari jaman SMP, huh!" racau batin gue. Udah beberapa hari gue kepikiran hal itu terus, gue ngerasa bosen ngejalanin ini semua, gue butuh sesuatu yang mampu mewarnai hidup gue agar lebih cerah untuk dijalani, dan agaknya gue tau penyebabnya, dan karena itu pula gue bela-belain masuk ke SMA ini, SMA yang terkenal karena rumor kualitas murid ceweknya yang cantik-cantik.

Yap, gue akuin yang udah bikin gue galau belakangan ini karena gue belum mampu menemukan bidadari di sekolah ini, gue haus akan kasih sayang, gue haus akan belaian wanita! Oke, gue positif lebay. Tapi gak salah dong, seorang pria diumur yang masih belia dan sedang dalam masa pertumbuhan...hmm, anyway! Jadi inti permasalahannya adalah, kenapa gue gak bisa menemukan bidadari di sekolahannya bidadari?

Sebenarnya rumor itu benar kok, sekolah ini surganya bidadari berseragam SMA, di kelas gue aja hampir semua ceweknya cantik-cantik, hanya saja gue butuh yang lebih dari sekedar cantik-oh ya, gue udah berkicau sebanyak ini tapi belum sempat mengenalkan diri, nama gue Cozy, umur gue 15 tahun, dan cewek idaman gue adalah..hmm, cewek dengan suara yang bagus! Bagus bukan berarti harus penyanyi lho, buat gue suara cewek ketika nyanyi dan ngomong biasa itu beda, kalo suaranya bagus ketika nyanyi, itu emang karena dia sedang nyanyi, alhasil suara yang dihasilkan merupakan hasil olah vokal yang dilakukan di pita suaranya. Berbeda dengan suara ketika ngomong biasa, suara yang dihasilkan akan lebih natural jadi lebih mudah diketahui apakah suaranya bagus atau tidak.

Setidaknya gue punya kriteria sendiri dalam menilai tiap suara cewek, buat gue cewek dibedakan dari jenis suaranya, ada yang bersuara cantik, imut, anggun, merdu, adem, indah, lembut dan lain-lain. Ketika ketemu cewek, hal yang pertama yang gue nilai bukanlah penampilan dia, atau wajah dia, buat gue yang paling berkesan dari seorang cewek adalah suaranya. Gue sangat menunggu-nunggu saat dimana gue merasa jatuh cinta pada pendengaran pertama, duh!

Oke, gue emang punya kelainan dalam selera gue terhadap cewek, kelainan itu pula yang menghambat keinginan gue untuk segera punya cewek. Di kelas gue sekarang, kelas 1.9, gue gak bisa menemukan cewek dengan melodi yang tepat buat hati gue, temen sekelas gue cantik-cantik tapi bukan itu yang gue cari kan? Apa? Lo bilang gue sok ganteng? Ehem, sebenernya bukan gue sok ganteng, tapi gue emang ganteng kok, buktinya diantara cewek-cewek sekelas, walaupun mereka gue deketin cuma buat lebih mengenal suaranya tapi kemudian malah mereka yang agresif, bahkan beberapa udah nembak gue.

Kehidupan SMA gue udah berjalan 2 bulan, kayaknya gue harus cari lahan baru, gue udah selesai investigasi cewek-cewek di kelas gue sendiri. "Ini dia, mulai besok, no, mulai saat ini gue harus bergerilya ke kelas lain!" teriak gue dalam hati, tiba-tiba gue merasa mendapat pencerahan, gue melihat seberkas cahaya diujung jalan, yang sebenarnya adalah cahaya matahari yang masuk melalui pintu kelas.

Gue langsung mempercepat langkah gue menuju pintu kelas. Sesaat gue keluar kelas, sesosok cewek sedang berjalan di depan pintu kelas gue. Seorang cewek berkulit putih dengan rambut hitam panjang terurai, wajahnya yang kecil dan berbentuk oval sangat cocok dengan posturnya yang bisa dibilang pendek. Gue ngeliat dia, dia ngeliat gue. Lalu dia tersenyum dan gue bales senyumnya dia. Lalu dia tetap berjalan terus sepanjang koridor. Pandangan gue terus mengikuti dia sampai dia hilang dari pandangan. "Dia manis juga." nilai gue dalam hati. "Dan di atas semua itu, dia dari kelas lain, oke, udah gue tetapkan kalo dia yang bakal jadi inceran gua selanjutnya!" hati gue serasa mendapat pencerahan bertubi-tubi, Oh what a day! Kayaknya gue harus menarik lagi kata-kata gue, hari ini akan menjadi hari yang berkesan!

"Pertama-tama, harus cari tau dulu dia dari kelas mana." gue berdiri di depan kelas sambil berpikir. Keadaan saat ini sudah cukup sepi karena gue orang terakhir yang keluar dari kelas, selain itu karena letak kelas gue yang diujung koridor. "Pasti dia dari kelas 1.10! Soalnya itu satu-satunya kelas yang terletak setelah kelas gue. Oke, let's see, gue punya kenalan siapa ya di 1.10..ah!". Di depan gue lewat 4 orang cowok, 1 orangnya gue kenal, namanya Tito, dia temen gue waktu SMP, and the best part is, dia anak 1.10. "Ahhh, To! Kebetulan banget! Gue mau nanya sesuatu," gue tarik tangannya Tito lalu dia berdiri di sebelah gue, dia memasang tampang heran. "Sorry men, duluan aje, entar gua nyusul." si Tito berkata ke temen-temennya, lalu setelah temennya agak menjauh, "Kenapa Ji?".

"Gue mau nanya," kata gue berapi-api, "Temen sekelas lo, cewek, namanya siapa?", "Yang mana?" balas Tito bingung. "Yang itu, yang..rambutnya panjang!", sahut gue masih dengan berapi-api. "...yang rambutnya panjang banyak." jawab Tito dengan tatapan skeptis, abis itu gue baru nyadar kalo gue udah nanya pertanyaan yang minim petunjuk. "Sini ikut gue!" gue tarik tangannya Tito biar ngikutin gue. Baru beberapa menit berlalu semenjak acara tukar senyum gue dengan cewek itu, pasti dia masih di lingkungan sekolah.

Langkah kita berdua berhenti di depan ruang guru, lalu gue menunjuk ke arah pintu gerbang sekolah. "Tuh! Yang itu", gue lihat raut muka Tito berubah, "Ooh dia, dia namanya Sherly, kenapa emangnya? Lo naksir ya?". Gue tersenyum mendengar tebakannya tepat, "Hehe, tadi gue abis tuker senyum sama dia di depan kelas, agaknya gue tertarik sama dia, lo punya nomer handphone dia gak?", Tito terlihat agak berpikir sebentar lalu menjawab, "Hmm, ada sih..tapi dia itu..eh, kalo lo tertarik kenapa gak langsung samperin aja sekarang? Kayak yang lo biasa lakuin.", "No no no my friend, sekarang waktunya gak tepat, tuh lo liat, dia lagi sama temen-temennya, lagian dia udah siap-siap mau pulang, gue lebih suka segala sesuatu yang lebih terencana untuk urusan begini!", "Yaah whatever," jawab Tito dengan muka tak acuh, "Yaudah, nih lo catet nomer handphone dia," Tito menyodorkan layar handphone-nya. Setelah mendapatkan cukup informasi dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Tito, gue langsung buru-buru pulang.

Sesampainya gue di rumah, gue langsung ke kamar gue, lalu merebahkan badan di kasur. Gue ambil handphone, sambil gue tatap nomor kontak yang baru aja bergabung di memory handphone gue. Pandangan gue tertuju ke nama sang pemilik nomor, "Sherly..nama yang indah..semoga suaranya juga seindah namanya." kata gue sok puitis. "Oke! Jadi rencananya begini," gue bangun dan duduk di kasur sambil bersandar ke tembok. "Besok hari Sabtu, sekolah libur, otomatis gue gak bisa ngeharapin buat ketemu di sekolah, hmm.." gue diem sebentar untuk berpikir. "Kalo gue langsung ngajak dia ketemuan, sekaligus kencan..mau gak yah dia? Yah, satu-satunya cara biar tau gue harus tanya dia!" gue langsung ngambil handphone dan siap-siap menelepon Sherly, "Eh, tunggu! Kalo gue telepon dia, berarti gue bakal denger suaranya..ah berarti gak bakal kejutan lagi besok! Selain itu gue mau denger suara dia secara langsung!".

Beberapa saat kemudian gue udah berhasil mengirim sms basa-basi ala anak SMA ketika ngajak kenalan, gak sampai 1 menit udah dibales sama dia, "Hai..iya ini Sherly, ini siapa yah?", "Woah, that was fast!" teriak gue dalam hati. Dia cepet balesnya, itu udah salah satu tanda kalo dia cukup terbuka, sekarang langkah selanjutnya. "Ini gue Cozy, anak 1.9, gue minta nomer lo ke Tito, tadi kita papasan di depan kelas gue waktu jam pulang. Tadi kita sempet tuker senyum, dan menurut gue senyum lo manis juga J". Tombol Send udah gue pencet, gue sengaja agak agresif di-sms kedua gue, gue pengen liat respon dia.

2 menit berlalu, handphone gue udah bunyi lagi, gue baca balesan sms dia, "Oh, lo yang tadi, iya gue inget, ehehe makasih ya. Salam kenal ya Cozy J". Senyum pun mengembang di wajah gue sesaat gue baca sms dia, langkah selanjutnya adalah saat-saat yang menentukan. "Iya, salam kenal juga Sherly J. By the way, to the point aja ya, gue tertarik sama lo waktu papasan sama lo tadi dan gue mau kenal lo lebih jauh. Rencananya gue mau ngajak lo besok ketemuan sekalian..kencan. Gimana menurut lo?". Gue baca ulang lagi hasil ketikan gue sebelum akhirnya gue pencet sekali lagi tombol Send.

"Message Delivered" begitu kalimat yang gue baca di layar handphone gue. Gue kembali merebahkan badan gue di kasur gue yang nyaman. "Ahh, kira-kira gimana ya respon dia? Kayaknya gue over-agresif deh.." lamunan gue tersadarkan oleh bunyi dering handphone gue, doi bales! Langsung buru-buru gue buka sms dari dia. "Kebetulan dong, gue lebih suka cowok yang jujur dan to the point. Gue juga tertarik sama lo. Oke, gue mau J". Fish on everybody!

Setelah merencanakan tempat pertemuan dan sedikit basa-basi, kita sepakat buat besok ketemuan di kafe deket sekolah kita, namanya “Safe & Sound Café”. Jadi inilah gue, duduk sendirian di dalem kafe, gue sengaja dateng sedikit lebih awal, biar menciptakan kesan awal yang bagus, jenius kan gue? Biasa aja? Oke.

Suasana kafe cukup ramai, wajar sih karena ini malam minggu. Kafe yang deket sekolah ini merupakan tempat favorit anak SMA di daerah sini, terutama dikalangan anak-anak dari SMA gue, saat ini aja, mayoritas pengunjung kafe ini berasal dari sekolah gue. Walaupun gue cuma kenal muka mereka. Gue ngeliat jam tangan, udah hampir tiba waktu yang dijanjikan, lalu gue alihkan pandangan gue ke arah pintu masuk, menunggu bidadari yang gue idam-idamkan tiba.

Gue masih memandangi pintu masuk, sambil sesekali melihat ke sekeliling mengamati pengunjung kafe lainnya. Beberapa menit kemudian gue liat seorang cewek masuk yang langsung gue sadari kalo itu adalah Sherly. Dia berhenti di depan pintu masuk, pandangannya tertuju mengamati meja-meja pengunjung. Gue langsung berdiri dari tempat duduk lalu melambaikan tangan ke arahnya. Dia melihat tanda dari gue, tersenyum lalu berjalan ke arah meja gue.

Sherly, dibalut dengan gaun hitam yang anggun, terlihat sangat cantik. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai sampai bahu, menambah kecantikan dirinya. Suara hentakan hak sepatunya bagaikan irama yang memiliki keindahan tersendiri yang membuat gue terhanyut dalam alunannya. Sampai akhirnya dia berjalan semakin dekat dan gue sadar kalo ini adalah saat yang paling gue tunggu sejak kemarin, gue akan segera mendengar suaranya.

"Ohh, dia semakin dekat!" rasa penasaran ini bikin gue jadi agak deg-degan. Apakah suaranya indah bagaikan malaikat? Atau suaranya adalah melodi yang udah gua idam-idamkan sejak dulu? Gue merasa sangat excited, terutama telinga gue, mereka bagaikan perut yang sangat kelaparan dan akan segera diberi makan. Sherly hanya tinggal berjarak beberapa langkah dari tempat gue berdiri. "Alright, here she comes." siap gue dalam hati, akankah gue merasakan jatuh cinta pada pendengaran pertama?

Bersambung